Batik DIY Didorong Makin Ramah Lingkungan demi Tembus Pasar Dunia

8 hours ago 2

Batik DIY Didorong Makin Ramah Lingkungan demi Tembus Pasar Dunia

Batik Jogja - Foto dibuat oleh AI/StockCake

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terus memperkuat pelaku ekonomi kreatif di sektor batik melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga eksistensi batik sebagai warisan budaya dunia sekaligus meningkatkan daya saing produk batik DIY di pasar internasional dengan mengedepankan prinsip ramah lingkungan.

Selain meningkatkan kualitas produk, penguatan sektor batik di DIY juga diarahkan pada penerapan konsep green product atau produk ramah lingkungan. Pelaku usaha didorong memahami penggunaan bahan pewarna secara efisien, pengelolaan limbah produksi, hingga penghematan penggunaan air dalam proses pembuatan batik.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, mengatakan pelatihan dan sertifikasi kompetensi bagi pelaku industri batik dilakukan secara rutin sebagai bagian dari upaya menjaga amanah batik yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Pelatihan tersebut mencakup berbagai aspek produksi batik, mulai dari desain hingga teknik pewarnaan menggunakan bahan alami. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan warisan budaya yang dimiliki DIY tetap terjaga dan berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

"Pelatihan itu kegiatan yang cukup penting karena di DIY itu batik sudah menjadi warisan dunia, yang kemudian kita memiliki tugas dan amanah untuk memastikan bahwa status warisan budaya ini terus menjadi milik DIY," katanya di Jogja, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan penguatan pelaku ekonomi kreatif batik tidak hanya bertujuan menghasilkan produk yang berkualitas tinggi, tetapi juga membuka peluang yang lebih besar untuk menembus pasar global. Oleh karena itu, pelaku usaha diharapkan mampu memenuhi standar produk yang semakin memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.

"Tapi juga memperhatikan 'green product' untuk memastikan produknya itu mampu untuk menjaga lingkungan, karena kita tahu sekarang bukan lagi sumber daya alam itu adalah titipan dari nenek moyang yang perlu dijaga terus," katanya lagi.

Menurut Imam, konsep green product menjadi perhatian penting bagi DIY mengingat proses produksi batik memiliki potensi dampak terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik. Karena itu, pelaku industri batik terus diberikan edukasi mengenai penggunaan zat pewarna sintetis yang lebih efisien serta alternatif bahan pewarna yang berasal dari alam.

Penerapan bahan pewarna alami dinilai menjadi salah satu upaya untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan selama proses produksi. Meski demikian, penggunaan bahan sintetis tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan standar dan efisiensi penggunaannya.

Oleh sebab itu, Dinas Pariwisata DIY juga memberikan pemahaman kepada pelaku usaha mengenai pengelolaan limbah hasil produksi agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Selain itu, efisiensi penggunaan air juga menjadi bagian dari materi pelatihan yang diberikan kepada pelaku industri batik.

"Termasuk kemudian juga bagaimana mengelola limbahnya dan tentunya juga mengurangi penggunaan air yang kemudian salah satu dari permasalahan lingkungan saat ini," katanya pula.

Imam berharap melalui pelatihan dan sertifikasi kompetensi yang rutin dilaksanakan setiap bulan, pelaku usaha dapat menjalankan proses produksi sesuai dengan prosedur teknis dan standar lingkungan yang dipersyaratkan.

Tidak hanya sektor batik, Dinas Pariwisata DIY juga terus melakukan pembinaan terhadap subsektor ekonomi kreatif lainnya. Saat ini, jumlah subsektor ekonomi kreatif yang menjadi perhatian pemerintah telah bertambah dari 19 menjadi 21 subsektor.

"Tidak hanya batik yang kita fasilitasi, karena kita tahu bahwa saat ini yang perlu kita bina tidak hanya 19 subsektor dari ekonomi kreatif, karena sudah nambah lagi menjadi 21 subsektor, karena selain kriya, sektor kuliner kita juga unggul," kata dia.

Penguatan kompetensi pelaku ekonomi kreatif di DIY diharapkan mampu menjaga keberlanjutan warisan budaya sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha. Dengan dukungan pelatihan yang berkelanjutan, batik DIY diharapkan tidak hanya tetap lestari sebagai warisan budaya dunia, tetapi juga semakin kompetitif di pasar nasional maupun internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |