Asita DIY Sebut Kelok 23 Bisa Buka Koridor Wisata Baru

8 hours ago 11

Harianjogja.com, JOGJA— Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) DIY menyambut positif uji coba Kelok 23. Bagi sektor pariwisata, pembangunan infrastruktur dan aksesibilitas menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan destinasi.

Humas Asita DIY, Iwan Sulistyanto mengatakan manfaat Kelok 23 tidak hanya berupa pengurangan waktu perjalanan, tetapi juga membuka peluang distribusi kunjungan wisatawan yang lebih luas.

"Bagi travel agent, ini juga memberikan ruang untuk menciptakan paket-paket wisata baru yang menggabungkan Bantul dan Gunungkidul tanpa wisatawan harus merasa terlalu banyak menghabiskan waktu di perjalanan," kata Iwan, Senin (21/9/2026).

Menurut Iwan, kawasan Selatan Bantul seperti Parangtritis, Parangkusumo, dan sekitarnya berpotensi mendapat dampak positif dari akses tersebut. Jalur itu juga akan memudahkan wisatawan menuju Girijati dan berbagai destinasi wisata di Gunungkidul.

Iwan mengatakan potensi Kelok 23 tidak hanya terletak pada destinasi yang berada di sekitar jalur tersebut. Akses baru ini dapat membentuk koridor wisata di kawasan Selatan sehingga wisatawan lebih mudah melanjutkan perjalanan dari Bantul ke Gunungkidul untuk mengunjungi pantai, desa wisata, menikmati kuliner, hingga berbagai atraksi lainnya.

Selain itu, Kelok 23 juga memiliki panorama yang menarik. Namun, menurut Iwan, panorama tersebut perlu ditunjang dengan penataan agar aktivitas wisata tidak mengganggu fungsi utama jalan.

"Tetapi tentu perlu penataan agar fungsi utamanya sebagai jalur transportasi tetap berjalan dengan aman dan tidak terganggu aktivitas wisatawan yang berhenti di lokasi yang tidak semestinya," jelasnya.

Kelok 23 Buka Konektivitas Bantul-Gunungkidul

Lebih lanjut, Iwan mengatakan potensi Kelok 23 cukup besar karena selama ini Bantul dan Gunungkidul sama-sama memiliki kekuatan destinasi, khususnya wisata alam dan kawasan pantai selatan.

Menurutnya, konektivitas yang semakin baik menjadi peluang untuk mengintegrasikan destinasi di kedua kabupaten tersebut dalam satu rangkaian perjalanan.

"Wisatawan yang sebelumnya mungkin hanya berkunjung ke kawasan Parangtritis dan sekitarnya, nantinya akan lebih mudah melanjutkan perjalanan menuju destinasi di Gunungkidul, begitu pula sebaliknya," ungkapnya.

Iwan mengatakan Kelok 23 bukan hanya membuka jalur baru antara Bantul dan Gunungkidul, tetapi juga membuat konektivitas kawasan selatan DIY menjadi semakin baik.

Dari perspektif biro perjalanan wisata, akses seperti ini sangat penting karena dapat memberikan alternatif dalam menyusun perjalanan wisata yang lebih efisien.

"Apalagi waktu tempuh antara Kretek dan Girijati yang sebelumnya sekitar 30 menit dapat dipangkas menjadi kurang lebih 7–8 menit. Tentunya ini menjadi nilai tambah dalam pengembangan pola perjalanan wisata di kawasan selatan DIY," ujarnya.

Asita Soroti Keselamatan hingga Rest Area

Menurut Iwan, ada beberapa hal yang menurut Asita DIY penting diperhatikan dalam pengembangan Kelok 23.

Pertama, aspek keselamatan mengingat karakter jalannya memiliki tanjakan, turunan dan tikungan. Rambu, penerangan, guardrail, titik berhenti yang aman, serta pengaturan lalu lintas harus benar-benar diperhatikan.

Kedua, dari perspektif industri pariwisata, Asita DIY berharap nantinya akses tersebut juga benar-benar siap dilalui kendaraan pariwisata.

Saat masa uji coba saat ini kendaraan besar memang belum diperbolehkan melintas karena masih terdapat pekerjaan lanjutan.

"Bagi biro perjalanan, kesiapan akses untuk bus pariwisata menjadi penting karena akan menentukan apakah jalur tersebut nantinya dapat dimasukkan secara optimal ke dalam itinerary grup," ujarnya.

Ketiga, penataan titik pandang atau rest area. Panorama di sepanjang Kelok 23 memiliki daya tarik sehingga perlu disediakan tempat berhenti yang resmi dan aman agar wisatawan tidak berhenti sembarangan di badan jalan.

Terakhir, perlu ada integrasi antara pembangunan infrastruktur dengan pengembangan produk wisata serta pemberdayaan masyarakat di sepanjang koridor tersebut.

Iwan berharap wisatawan tidak hanya sekadar lewat, tetapi juga berhenti, melakukan aktivitas, menikmati kuliner, mengunjungi destinasi dan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Bantul maupun Gunungkidul.

Bagi Asita DIY, Iwan mengatakan Kelok 23 tidak semata hanya jalan baru, tetapi dapat menjadi peluang untuk membangun koridor perjalanan wisata baru di kawasan selatan DIY.

"Diperlukan penertiban bagi kendaraan yang berhenti di sepanjang jalan agar tidak menimbulkan potensi kemacetan, penanda rest area, penghijauan dan tindakan mengurangi debu di sekitar lokasi rest area, dan fasilitas pendukung rest area termasuk toilet yang memadai dan mushola," jelasnya.

Kelok 23 Berpotensi Perpanjang Lama Tinggal Wisatawan

Menurut Iwan, Kelok 23 berpotensi memperpanjang lama tinggal wisatawan di DIY. Namun, keberadaan akses baru tersebut belum cukup karena peningkatan lama tinggal juga membutuhkan dukungan infrastruktur dan faktor lainnya.

Ia mengatakan hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah menerjemahkan akses baru tersebut menjadi produk wisata.

Misalnya, jika sebelumnya perjalanan kawasan selatan hanya menjadi one day trip, ke depan dapat dikembangkan menjadi perjalanan dua hari atau lebih.

"Dengan mengkombinasikan destinasi, aktivitas, kuliner, desa wisata, hingga akomodasi yang ada di Bantul dan Gunungkidul," jelasnya.

Iwan menjelaskan potensinya cukup besar apabila dibarengi dengan pengembangan produk dan promosi yang terintegrasi.

Bagi Asita DIY, kata dia, di industri perjalanan wisata, akses Kelok 23 menjadi peluang untuk membuat wisatawan memiliki lebih banyak alasan untuk mengeksplorasi kawasan selatan DIY.

"Dan tidak hanya datang ke satu destinasi kemudian kembali ke Kota Jogja," lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |