Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyiapkan anggaran Rp160 juta untuk program pemberian pakan monyet ekor panjang sebagai langkah meredam konflik satwa liar dengan warga. Program ini akan berjalan selama sepuluh bulan sepanjang 2026 dan difokuskan pada wilayah dengan tingkat gangguan tertinggi.
Kepala Bidang Konservasi dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Gunungkidul, Hana Kadaton Adinoto, menjelaskan bahwa konflik monyet ekor panjang masih menjadi persoalan serius yang harus segera dikendalikan. Salah satu upaya jangka pendek yang ditempuh adalah pemberian pakan rutin agar kawanan monyet tidak masuk dan merusak lahan pertanian warga.
“Pemberian pakan untuk monyet sudah berlangsung sejak 2023,” kata Adinoto, Senin (2/2/2026).
Untuk pelaksanaan tahun ini, Dinas Lingkungan Hidup telah memetakan lokasi sasaran yang dinilai paling rawan. Wilayah pemberian pakan masih difokuskan di Kapanewon Tepus, meliputi Kalurahan Purwodadi, Tepus, Giripanggung, dan Sidoharjo, sama seperti program tahun sebelumnya.
“Rutin tiap hari diberi pakan, meski prosesnya disebar secara bergantian. Setiap hari ada pasokan pangan sekitar 45 kilo singkong dan 18 sisir pisang untuk diberikan ke monyet,” katanya.
Menurut Adinoto, program ini dijadwalkan berlangsung mulai Maret hingga Desember 2026. Seluruh pendanaan bersumber dari Dana Keistimewaan dengan total pagu anggaran sebesar Rp160 juta yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan selama sepuluh bulan.
“Ini cukup untuk memberikan pakan dalam rentang waktu sepuluh bulan. Makanya, program mulai dijalankan Maret mendatang,” katanya.
Selain menjadi solusi cepat untuk meredam konflik, pemberian pakan ini juga disiapkan sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Ke depan, pemerintah daerah berencana melakukan penanaman pohon buah di kawasan habitat monyet agar tersedia sumber pakan alami bagi primata tersebut.
“Untuk jangka panjang, rencananya juga ada penanaman pohon buah agar menjadi pasokan pakan bagi primata ini,” katanya.
Sementara itu, Ulu-Ulu Kalurahan Purwodadi, Tepus, Suroyo, mengungkapkan wilayahnya menjadi salah satu titik prioritas karena serangan monyet masih sering terjadi. Bahkan, populasi kawanan monyet di wilayah tersebut terus bertambah dari waktu ke waktu.
“Sekarang sudah ada sebelas titik persembunyian monyet di Kalurahan Purwodadi sehingga mengancam lahan pertanian milik masyarakat. Makanya dibantu dengan memberikan pakan berupa ketela maupun buah-buahan seperti pisang,” kata Suroyo.
Meski program pemberian pakan dinilai membantu, warga berharap ada solusi yang lebih permanen. Berbagai upaya pengusiran telah dilakukan masyarakat, mulai dari membunyikan petasan hingga berjaga di ladang hingga petang, namun hasilnya belum efektif.
“Hingga sekarang, kawanan monyet ini masih menyerang ke pertanian milik warga,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































