
Ilustrasi, petugas menyiapkan Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu SPPG di Jawa Barat./Antara-Lintang Budiyanti Prameswari.
Harianjogja.com, SLEMAN—Sebanyak 189.473 orang tercatat menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sleman hingga 16 September 2026. Mayoritas penerima merupakan siswa yang berasal dari 1.489 sekolah.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Sleman, Wiyato Widodo, mengatakan data tersebut berdasarkan catatan Korwil Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sleman per 16 September 2026.
Dari total penerima tersebut, kelompok sekolah menjadi sasaran terbesar program MBG. Jumlah siswa penerima mencapai 164.163 orang yang tersebar di 1.489 sekolah.
Selain siswa, MBG juga diberikan kepada kelompok ibu hamil, balita, dan ibu menyusui. Rinciannya, sebanyak 2.413 ibu hamil, 15.308 balita, dan 7.589 ibu menyusui tercatat sebagai penerima.
Dengan demikian, jumlah penerima dari kelompok sekolah jauh lebih besar dibandingkan kelompok penerima lainnya.
Belum Ada Sekolah Dicoret dari Penerima MBG
Satgas Percepatan MBG Sleman hingga saat ini juga belum mencatat adanya sekolah yang dihentikan atau dikeluarkan dari daftar penerima program.
Pencoretan tersebut termasuk yang didasarkan pada kondisi ekonomi sekolah maupun kemampuan finansial penerima.
“Sampai saat ini belum ada,” kata Wiyato saat dikonfirmasi, Rabu (16/9/2026).
Di sisi lain, Satgas Percepatan MBG Sleman terus melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program. Pemantauan juga mencakup kejadian keracunan pangan yang terjadi setelah penerima mengonsumsi makanan MBG.
“Kami tentu ikut melakukan penanganan kejadian, pengecekan laboratorium, pemantauan korban yang rawat inap dan melakukan evaluasi,” katanya.
Keracunan MBG di Turi
Sebelumnya, sebanyak 45 siswa dari tiga sekolah di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, menjadi korban keracunan pangan (kerpang) setelah menyantap makanan program MBG pada Senin (7/9/2026).
Jumlah korban kemudian bertambah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, per Rabu (9/9) pukul 08.25 WIB, total korban tercatat mencapai 101 orang.
Kasus terbanyak terjadi di SMPN 3 Turi dengan 65 orang. Dari jumlah tersebut, 62 orang menjalani rawat jalan di puskesmas, dua orang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan lain, dan satu orang menjalani rawat inap di RSUD Sleman.
Sementara itu, SMK Muhammadiyah 1 Turi mencatat 26 kasus. Sebanyak 25 orang menjalani rawat jalan, sedangkan satu orang dirawat di RSUD Sleman.
Adapun SD Muhammadiyah Balerante mencatat sepuluh kasus. Seluruh korban menjalani rawat jalan dan tidak ada pasien yang menjalani rawat inap.
Dengan demikian, dari total 101 kasus keracunan pangan tersebut, sebanyak 99 orang menjalani rawat jalan dan dua orang menjalani rawat inap.
BGN Tanggung Biaya Pengobatan
Terkait sumber anggaran untuk pengobatan dan perawatan korban keracunan pangan, Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, menegaskan biaya tersebut ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
“BGN yang menanggung,” kata Abu.
Pemantauan terhadap pelaksanaan MBG di Sleman tetap dilakukan, termasuk penanganan kejadian keracunan pangan, pengecekan laboratorium, pemantauan korban yang menjalani rawat inap, serta evaluasi terhadap pelaksanaan program.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































