Komandan Kodim 0730/GK, Letkol Inf Alfian Yudha Praniawan saat meninjau lokasi pembangunan Gedung Koperasi Desa Merah Putih di Kalurahan Jatiayu, Karangmojo. Kamis (8/1/2026).Harian Jogja - David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pembangunan 10 gedung Koperasi Desa Merah Putih di Kabupaten Gunungkidul resmi dimulai sejak akhir Desember 2025. Proyek ini mengusung konsep padat karya dengan melibatkan warga lokal sebagai tenaga kerja utama.
Pembangunan dilakukan secara bertahap karena harus memastikan kesiapan dan kejelasan status lahan. Dari total rencana yang ada, baru sepuluh kalurahan yang memenuhi syarat untuk memulai pembangunan.
Selain melibatkan tenaga lokal, pembangunan gedung koperasi juga tetap mengandalkan tenaga ahli untuk pekerjaan tertentu. Langkah ini dilakukan agar kualitas bangunan terjaga dan target penyelesaian dalam waktu 93 hari dapat tercapai.
Komandan Kodim 0730/GK, Letkol Inf Alfian Yudha Praniawan mengatakan, belum semua gedung Koperasi Desa Merah Putih dibangun di Gunungkidul. Pasalnya, hingga saat ini baru ada sepuluh gerai yang mulai dilakukan pembangunan.
“Sekarang masih berlangsung dan sesuai ketentuan harus selesai dalam 93 hari,” kata Alfian saat meninjau lokasi pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Kalurahan Jatiayu, Karangmojo, Kamis (8/1/2026).
Dia beralasan, gedung koperasi belum bisa dibangun di seluruh kalurahan karena harus dipastikan lahannya clear and clean. Di sisi lain, tanah yang dipergunakan merupakan Sultan Ground (SG) maka pemanfaatannya harus mendapatkan izin dari Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.
“Yang diizinkan ada sepuluh. Ini dibangun dahulu, nanti yang lainnya menyusul,” kata dia.
Alfian menegaskan, bahwa pembangunan juga melibatkan warga lokal. Pasalnya, pelaksanaan pembangunan mengadopsi dari konsep padat karya yang selama ini dijalankan.
“Total ada 15-20 pekerja yang membangun. Untuk tenaga kerja, kami koordinasi dengan pihak kalurahan sehingga masyarakat ikut dilibatkan. Syaratnya, mereka [warga] berniat untuk bekerja dengan sungguh-sungguh sehingga pengerjaan bisa selesai tepat waktu,” ungkapnya.
Meski demikian, Alfian tidak menampik ada beberapa tenaga yang didatangkan dari luar. Hal ini menyangkut pekerjaan keahlian sehingga membutuhkan ketrampilan khusus.
“Pasti ada tenaga ahlinya dan kami pilih yang benar-benar trampil,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Gunungkidul, Supartono mengatakan, hingga sekarang sudah ada sepuluh kalurahan yang mulai membangun gedung Koperasi Desa Merah Putih. Kalurahan ini meliputi Wiladeg, Jatiayu, Kelor di Kaapanewon Karangmojo.
Selanjutnya, ada di Kalurahan Getas dan Gading di Kapanewon Playen; Kenteng dan Sidorejo di Kapanewon Ponjong. Adapun tiga gedung lainnya dibangun di Kalurahan Siraman serta Baleharjo, Wonosari dan Kalurahan Candirejo, Semanu.
“Sudah mulai dibangun. Proses pembangunannya bekerja sama dengan PT Agrinas,” kata Supartono.
Ia mengimbau kepada kalurahan lain yang belum membangun untuk tidak gegabah. Menurut dia, lahan calon gedung koperasi harus clear and clean, mulai dari perizinan hingga lahan yang akan dipakai harus dipastikan kejelasan statusnya. Ia mencontohkan, apabila lokasi akan menggunakan lahan baku sawah (LBS), maka harus diurus. Selain itu, maka harus dicari lahan pengganti agar status LBS tidak berkurang.
“Jadi, kami minta agar lebih teliti dan tidak terburu-buru untuk membangun. Sebab, kepastian akan status lahan akan sangat penting ke depannya,” katanya.
Dia menambahkan, untuk sumber daya manusia sudah dilakukan peningkatan kapasitas dan kemampuan. Selain itu, juga ada sosialisasi berkaitan dengan sumber permodalan dari bank.
“Pengembangan kapasitas SDM dilakukan dengan memberikan pelatihan tentang bisnis plan untuk koperasi,” katanya.
Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih diharapkan mampu memperkuat ekonomi kerakyatan di Gunungkidul sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga melalui skema pembangunan berbasis padat karya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































