Umat Kristen-Katolik Mengikuti Seminar Ekumenisme di Jogja

8 hours ago 3

Umat Kristen-Katolik Mengikuti Seminar Ekumenisme di Jogja Seminar Ekumenisme di Gereja Kristus Raja Baciro, Kamis (8/1 - 2026), sebagai bagian dari persiapan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristen 2026 yang akan berpuncak pada 21 Januari mendatang. Ist

Harianjogja.com, JOGJA — Sekitar 130 umat Kristen dan Katolik, termasuk pelajar SMA, mengikuti Seminar Ekumenisme di Gereja Kristus Raja Baciro, Kamis (8/1/2026), sebagai bagian dari persiapan Pekan Doa Sedunia untuk Kesatuan Umat Kristen 2026 yang akan berpuncak pada 21 Januari mendatang.

Kegiatan ini mempertemukan umat lintas denominasi dalam satu ruang dialog dan pembelajaran bersama, membahas makna ekumenisme serta bentuk ibadah oikumenis yang akan dilaksanakan. Seminar menghadirkan Romo Martinus Joko Lelono, Romo Paroki Santo Mikael Pangkalan TNI AU Adi Sutjipto, dan Pendeta Jozef M. Hehanussa dari Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB), yang juga dosen teologi di Universitas Kristen Duta Wacana.

Koordinator seminar, Bonifatius Aditya Kurniawan, mengatakan kegiatan ini diselenggarakan karena masih banyak umat yang belum memahami Pekan Doa Sedunia dan tujuan ibadah ekumenis. Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar umat dapat terlibat secara aktif dan sadar dalam perayaan puncak nanti.

“Harapannya, umat tahu bahwa ini bukan ibadat biasa, tapi doa bersama lintas gereja yang mengajak kita membangun persaudaraan,” kata Bonifatius. Panitia menargetkan kehadiran hingga sekitar 1.000 umat pada ibadah puncak 21 Januari di Gereja Kristus Raja Baciro.

Romo Martinus menjelaskan Pekan Doa Sedunia merupakan gerakan global yang telah berlangsung sejak 1908. Ibadah ini tidak menggunakan liturgi resmi gereja tertentu, melainkan doa bersama yang dapat diikuti oleh umat Kristen dan Katolik.

“Ini bukan soal menyeragamkan ibadah, tetapi menemukan ruang bersama sebagai saudara seiman,” ujar Romo Martinus. Ia menambahkan, ibadah oikumenis di Yogyakarta selama ini digelar bergiliran di berbagai gereja untuk mendorong saling mengenal antarumat.

Pendeta Jozef Hehanussa menegaskan bahwa ekumenisme tidak dimaksudkan untuk menghapus perbedaan teologis atau tradisi ibadah, melainkan membangun kebersamaan dalam iman kepada Kristus. Menurutnya, perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk bekerja dan berdoa bersama.

“Ekumenisme mengajak gereja-gereja berjalan bersama menjalankan panggilan yang sama, termasuk merespons persoalan sosial, lingkungan, dan ketidakadilan,” katanya.

Seminar ini juga diikuti oleh pelajar dari berbagai SMA Kristen dan Katolik di Yogyakarta. Sejumlah siswa mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan ekumenis dan menilai pengalaman tersebut membuka pemahaman baru tentang hubungan antarumat Kristen.

Ibadah Pekan Doa Sedunia 2026 di Yogyakarta akan melibatkan paduan suara lintas komunitas, termasuk OMK Paroki Baciro, Paroki HKTY Pugeran, SMA Bopkri 2, serta paduan suara anak GKJ Gondokusuman. Lagu dan doa yang digunakan bersifat umum agar dapat diterima seluruh denominasi.

Pekan Doa Sedunia akan berlangsung secara internasional pada 18–25 Januari. Di Yogyakarta, perayaan puncak pada 21 Januari di Baciro diharapkan menjadi ruang perjumpaan umat Kristen dan Katolik untuk berdoa bersama, mempererat persaudaraan, dan menegaskan peran gereja di tengah masyarakat yang majemuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |