Foto ilustrasi insinerator sampah. / Freepik
JOGJA—Pemerintah Pusat menggencarkan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL). Proyek ini antara lain terinspirasi dari Singapura yang dinilai sukses mengelola sampahnya untuk dijadikan sumber energi listrik dengan meminimalkan emisi dan dampak lingkungan lainnya.
Guna mempercepat proyek PSEL Presiden menerbitkan Peraturan Presiden No. 109 Tahun 2025, dengan target 100 persen sampah terkelola pada 2029. Kebijakan ini dikawal oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dan Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Pemerintah juga menempatkan PSEL sebagai bagian dari 18 proyek hilirisasi strategis nasional dengan target pelaksanaan dan peletakan batu pertama hingga Maret 2026. DIY menjadi salah satu daerah yang ditargetkan dibangun PSEL.
Seperti apa sebenarnya PSEL yang digunakan di Singapura? Singapura sendiri pada tahun 2019 telah menghasilkan 7.23 juta ton sampah. Mengutip dari sejumlah sumber, salah satu fasilitas pengolahan sampah menjadi energi (waste-to-energy/WtE) terbesar, tercanggih, dan paling strategis di Singapura adalah fasilitas Tuas South Incineration Plant (TSIP).
Adapun tahapan PSEL dimulai dari mengumpulkan limbah sampah dari berbagai daerah atau lokasi lalu membawanya ke suatu gedung pembakaran sampah yang memiliki cerobong asap.
Lalu, sampah dibakar setiap hari tanpa henti dengan suhu mencapai 1000 derajat Celsius agar sampah berubah menjadi abu. Metode ini sukses memusnahkan sampah hingga 90%. Adapun 10% sisanya akan berubah menjadi abu.
Setelah menjadi abu, abu tersebut akan diendapkan di dalam danau buatan yang telah terisi air khusus. Danau ini berada di pulau buatan (Pulau Semakau). Lokasi danau tersebut ditempatkan jauh dari pendudukan dan pantai sehingga membuat danau tidak akan mencemari lingkungan.
Hamparan Hijau
Abu hasil pembakaran sampah di danau tersebut diratakan, ditutup dengan lapisan tanah, dan dipisahkan dari laut dengan dinding pembatas kedap air, membentuk "danau abu" yang aman. Rumput dan tanaman tumbuh di atasnya, menciptakan hamparan hijau.
Singapura berhasil mengubah abu sisa pembakaran sampah menjadi pulau buatan, Pulau Semakau, yang kini menjadi ekowisata dan pusat konservasi alam dengan danau, hutan bakau, hingga terumbu karang, serta menjadi habitat beragam burung dan serangga.
Asap Pembakaran
Lalu bagaimana dengan asap yang dihasilkan oleh pembakaran sampah, yang selama ini kerap dikhawatirkan karena potensial mencemari lingkungan?
Ternyata, pemerintah Singapura juga menyulap asap pembakaran sampah tersebut agar tidak terjadi polusi udara. Pemerintah Singapura tidak langsung membuang asap tersebut ke udara lewat cerobong asap.
Namun asap hasil pembakaran disaring kembali dengan teknologi tertentu sampai akhirnya bisa dilepas menjadi udara yang bersih dan aman untuk dihirup. Terpenting lagi, udara panas bekas hasil pembakaran sampah bisa menjadi sumber energi yang mengaktifkan listrik di rumah-rumah warga Singapura. Menarik bukan?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































