Suasana Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) Warungboto, Umbulharjo, Kota Jogja, yang dimanfaatkan untuk program seperti rumah maggot, komposter guna menekan volume sampah dari tingkat warga. - Harian Jogja - Ariq Fajar Hidayat
Harianjogja.com, JOGJA—Kelurahan Warungboto, Umbulharjo, Kota Jogja, meluncurkan sistem pengelolaan sampah organik berbasis maggot dengan melibatkan warga dan Forum Bank Sampah (FBS) untuk menekan volume sampah sekaligus memberi insentif ekonomi.
Untuk mengatasi masalah sampah organik, Kelurahan Warungboto mulai memfokuskan pengelolaan melalui budidaya maggot dengan sistem baru yang lebih terstruktur. Rumah maggot dibangun di Ruang Terbuka Hijau Publik (RTHP) sebagai pusat pengolahan sekaligus sarana edukasi bagi warga.
Lurah Warungboto, Ety Purnawati, menjelaskan bahwa program ini lahir dari pengalaman sebelumnya yang menghadapi kendala bau dan gangguan tikus. "Maggot ini yang akan kita fokuskan bulan ini. Dulu pengembangan maggot ada, tapi banyak kendala karena pengolahannya belum optimal dan SOP belum jelas," kata Ety di Kantor Kelurahan Warungboto.
Sistem baru dijalankan dengan tim khusus dan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas. Warga yang tergabung dalam FBS akan mendapat satu boks baby maggot untuk mengolah sampah organik di wilayah masing-masing.
"Nantinya satu kotak baby maggot kita serahkan ke FBS tiap RW. Sampah organik dimasukkan ke situ, cepat habis. Kalau maggot sudah dewasa, dikembalikan ke RTHP, warga mendapat cuan, lalu diganti lagi dengan baby maggot," jelas Ety.
Konsep ini tidak hanya menekan volume sampah, tetapi juga memberi insentif ekonomi dan edukasi pemilahan sampah. Maggot yang sudah berkembang dapat disalurkan kembali ke anggota FBS lain di wilayah masing-masing.
Selain maggot, kelurahan juga mengoptimalkan pengolahan kompos. Saat ini terdapat 29 komposter di RTHP khusus untuk sampah kering seperti daun. "Komposter ini hanya untuk sampah kering dan dikelola oleh tim yang berkolaborasi dengan FBS tingkat kelurahan," tambah Ety.
Langkah ketiga adalah optimalisasi bank sampah. Sebanyak sembilan bank sampah di Warungboto kini buka dengan jadwal berbeda agar warga bisa menyetor atau menjual sampah anorganik kapan saja. "Bank sampah kami buka harinya berbeda-beda. Jadi tidak harus menunggu sebulan sekali. Bisa dijual, disetorkan, bahkan disedekahkan," ujarnya.
Strategi tiga langkah ini telah dijalankan sejak September 2025 dan terbukti berdampak positif. Menurut Ety, penumpukan sampah di wilayah Warungboto kini dapat terkendali. "Permasalahan penumpukan sampah insyaallah tidak ada sampai sekarang," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News















































