Jangan Asal Tambal Ban Mobil Listrik, Cek 4 Hal Ini

4 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA—Ban mobil listrik yang bocor tidak otomatis harus diganti. Pemilik kendaraan listrik masih dapat memperbaiki ban yang mengalami kebocoran, tetapi keputusan tersebut bergantung pada lokasi, ukuran, dan kondisi kerusakan serta aturan dari produsen ban.

Hal ini penting diperhatikan karena ban mobil listrik memiliki karakteristik berbeda dibandingkan ban kendaraan konvensional. Bobot kendaraan yang lebih besar akibat baterai dan karakter torsi instan membuat produsen mengembangkan ban dengan spesifikasi tertentu.

Salah satu jenis ban EV juga menggunakan lapisan acoustic foam atau busa peredam suara yang ditempelkan pada bagian dalam ban. Teknologi tersebut membantu mengurangi suara ban yang masuk ke kabin, tetapi membuat proses pemeriksaan dan perbaikan menjadi lebih kompleks.

Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan sekadar apakah ban mobil listrik boleh ditambal. Pemilik kendaraan perlu mengetahui apakah kerusakan yang terjadi masih berada dalam area yang dapat diperbaiki dan apakah bengkel memiliki prosedur yang sesuai.

Tidak Semua Ban Mobil Listrik Sama

Ban yang digunakan pada mobil listrik dirancang untuk menghadapi karakter kendaraan yang berbeda. Selain membawa beban baterai yang besar, mobil listrik juga dapat menyalurkan torsi secara instan ke roda sehingga konstruksi dan spesifikasinya perlu disesuaikan.

Beberapa ban EV menggunakan acoustic foam di bagian dalam. Busa tersebut berfungsi meredam suara resonansi dari ban sehingga kenyamanan kabin tetap terjaga, terutama karena kendaraan listrik tidak memiliki suara mesin pembakaran yang biasanya ikut menutupi suara dari ban dan permukaan jalan.

Karakteristik lain adalah konstruksi dinding dan tapak yang dirancang untuk menopang beban kendaraan. Ban EV tertentu juga mempunyai indeks beban dan kecepatan yang disesuaikan dengan kebutuhan kendaraan.

Namun, keberadaan label atau desain khusus untuk EV tidak berarti ban tersebut tidak dapat diperbaiki. Sejumlah produsen ban menyatakan ban EV masih dapat diperbaiki jika kerusakannya memenuhi kriteria keselamatan.

Kapan Ban EV Masih Bisa Ditambal?

Kerusakan akibat paku atau benda tajam masih dapat diperbaiki apabila berada di area tapak, bukan pada dinding atau bagian bahu ban. Sebagai salah satu acuan industri, kerusakan tusukan dengan diameter maksimal sekitar 6 milimeter atau 1/4 inci dapat dipertimbangkan untuk diperbaiki setelah ban diperiksa dari bagian dalam.

Lokasi kerusakan menjadi faktor penting. Ban yang mengalami kerusakan pada sidewall atau bagian bahu tidak dapat disamakan dengan ban yang hanya mengalami tusukan kecil di tengah tapak.

Kondisi internal ban juga harus diperiksa. Jika kendaraan sempat digunakan dalam kondisi tekanan udara sangat rendah atau ban sudah mengalami kerusakan pada struktur internal, perbaikan tidak lagi menjadi pilihan yang aman meskipun lubang awal terlihat kecil.

Karena itu, ukuran lubang saja tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah ban dapat ditambal. Ban perlu dilepas dari pelek agar bagian dalamnya dapat diperiksa sebelum teknisi menentukan tindakan.

Acoustic Foam Membuat Proses Perbaikan Lebih Rumit

Pemilik mobil listrik yang menggunakan ban dengan lapisan busa peredam suara perlu memberi tahu teknisi mengenai keberadaan material tersebut. Foam biasanya menempel pada inner liner sehingga teknisi harus bekerja lebih hati-hati ketika mengakses area kebocoran.

Sejumlah produsen dan pelaku industri ban menjelaskan bahwa ban dengan acoustic foam tetap dapat diperbaiki. Prosesnya dapat mencakup pelepasan bagian foam di sekitar titik kerusakan agar area inner liner dapat diperiksa dan dipersiapkan untuk perbaikan.

Setelah perbaikan selesai, penanganan foam mengikuti prosedur yang berlaku untuk ban tersebut. Detailnya tidak selalu sama untuk setiap merek dan model sehingga panduan produsen ban tetap menjadi rujukan penting.

Dengan kata lain, acoustic foam bukan alasan otomatis untuk membuang ban yang bocor. Material tersebut justru membuat pemilik kendaraan perlu memilih bengkel yang memahami prosedur perbaikan ban berlapis foam.

Jangan Hanya Mengandalkan Tambal Cacing dari Luar

Salah satu hal yang perlu dibedakan adalah tambalan sementara dengan perbaikan permanen. Menyisipkan string plug atau tambal cacing dari bagian luar mungkin dapat menghentikan kebocoran, tetapi metode tersebut tidak menggantikan pemeriksaan internal ban.

Untuk perbaikan permanen, standar industri mengharuskan ban dilepas dari pelek dan diperiksa. Perbaikan juga perlu memastikan bagian yang mengalami tusukan terisi dan inner liner kembali tersegel dengan benar.

Hal ini semakin penting jika ban menggunakan acoustic foam. Bengkel perlu memastikan material tersebut tidak menghalangi pemeriksaan serta tidak mengganggu proses perbaikan.

Jadi, ketika ban mobil listrik terkena paku di jalan, jangan langsung menyimpulkan bahwa ban pasti harus diganti. Namun, jangan pula menganggap tambal cacing dari luar sudah cukup untuk semua kondisi.

Perhatikan Sensor Tekanan Ban

Mobil listrik modern juga umumnya dilengkapi sistem pemantauan tekanan ban atau Tire Pressure Monitoring System (TPMS). Sensor tersebut berada pada bagian roda dan perlu diperhatikan ketika ban dilepas dari pelek.

Teknisi harus menghindari kerusakan pada sensor selama proses pembongkaran dan pemasangan kembali. Setelah ban selesai diperbaiki, kondisi tekanan dan sistem pemantauan juga perlu diperiksa sesuai prosedur kendaraan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah mengikuti petunjuk produsen kendaraan dan ban. Tire Rack, misalnya, menekankan bahwa pemilik EV perlu mengacu pada panduan produsen ban dan kendaraan untuk menentukan apakah sebuah ban dapat diperbaiki.

Kapan Ban Mobil Listrik Sebaiknya Diganti?

Penggantian menjadi pilihan ketika kerusakan berada di sidewall atau area yang tidak diperbolehkan untuk diperbaiki, lubang terlalu besar, atau pemeriksaan menemukan kerusakan internal. Ban yang pernah digunakan dalam kondisi kempis hingga mengalami kerusakan struktur juga tidak seharusnya dipertahankan hanya karena lubangnya terlihat kecil.

Begitu pula apabila produsen ban menetapkan kondisi tertentu sebagai tidak dapat diperbaiki. Dalam situasi seperti itu, keputusan mengganti ban berkaitan dengan keselamatan, bukan semata-mata karena kendaraan yang digunakan adalah mobil listrik.

Pemilik juga sebaiknya memastikan ban pengganti memiliki ukuran dan spesifikasi yang sesuai dengan kendaraan. Beban, indeks kecepatan, ukuran ban, serta rekomendasi produsen perlu diperhatikan sebelum membeli ban baru.

Jangan Asal Pilih Bengkel

Bagi pemilik mobil listrik, persoalan ban bocor sebenarnya tidak sesederhana memilih antara tambal atau ganti. Pertanyaan pertama yang sebaiknya diajukan kepada bengkel adalah apakah teknisi mereka menerima perbaikan ban EV dan apakah mereka dapat menangani ban yang memiliki acoustic foam.

Pemilik kendaraan juga dapat menanyakan apakah pemeriksaan dilakukan dengan melepas ban dari pelek dan memeriksa bagian dalamnya. Jika bengkel langsung menawarkan tambal dari luar tanpa memeriksa kondisi internal, pemilik sebaiknya mencari penjelasan lebih lanjut mengenai prosedur tersebut.

Hal serupa berlaku ketika bengkel langsung menyatakan ban harus diganti hanya karena terdapat acoustic foam. Data dari sejumlah produsen menunjukkan bahwa keberadaan foam tidak dengan sendirinya membuat ban tidak dapat diperbaiki. Namun, bengkel tetap harus mengikuti prosedur yang tepat dan panduan produsen.

Pada akhirnya, keamanan ban mobil listrik tidak ditentukan oleh label EV semata. Kondisi ban, lokasi dan ukuran tusukan, kerusakan internal, jenis konstruksi ban, serta prosedur perbaikan menjadi faktor yang menentukan apakah ban masih layak digunakan setelah ditambal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |