
Cuaca panas - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengingatkan masyarakat untuk menjaga kondisi tubuh di tengah cuaca panas pada siang hari yang disertai suhu lebih dingin pada malam hari. Warga diminta mencukupi kebutuhan cairan, mengurangi paparan sinar matahari langsung, serta menerapkan pola hidup sehat guna mencegah berbagai gangguan kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan DIY, Gregorius Anung Trihadi, mengatakan perubahan kondisi cuaca tersebut dapat meningkatkan risiko penularan penyakit yang menyebar melalui udara (airborne) maupun percikan droplet, seperti infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).
Daya Tahan Tubuh Menjadi Faktor Penting
Menurut Gregorius, risiko seseorang tertular penyakit sangat dipengaruhi oleh kondisi daya tahan tubuh. Karena itu, masyarakat perlu menjaga kesehatan, terutama saat menghadapi cuaca panas yang juga disertai paparan polusi.
"Jangan sampai kekurangan cairan, minum yang cukup itu penting. Kemudian tetap menjaga pola hidup sehat," ucapnya, Senin (6/7/2026).
Penderita Alergi Diminta Lebih Waspada
Dinkes DIY juga mengingatkan masyarakat yang memiliki riwayat alergi agar lebih berhati-hati terhadap perubahan suhu.
Gregorius menjelaskan cuaca panas maupun dingin sama-sama dapat memicu munculnya keluhan kesehatan pada penderita alergi.
"Karena alergi itu bisa dipicu oleh panas itu bisa kemudian gatal. Kalau dingin, sesak napas, gatal, dan sebagainya juga kemudian bisa terjadi," ujarnya.
Suhu DIY Belum Seekstrem Eropa
Ia menuturkan suhu udara di DIY hingga saat ini masih belum mencapai kondisi ekstrem seperti yang terjadi di sejumlah negara Eropa dengan suhu hingga 40 derajat Celcius.
Menurutnya, hujan yang masih sesekali turun membantu menjaga suhu udara sehingga tidak terus mengalami peningkatan.
"Jaga kesehatan dengan tetap minum air putihnya yang cukup. Jangan terlalu sering terpapar sinar matahari," ucapnya.
Gunakan Pelindung Saat Beraktivitas di Bawah Matahari
Gregorius menjelaskan paparan sinar matahari secara berlebihan dapat meningkatkan penguapan cairan tubuh sehingga memicu dehidrasi.
Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan pelindung seperti topi untuk mengurangi paparan sinar matahari langsung.
Ia menambahkan, kebutuhan cairan tubuh orang dewasa umumnya berkisar 1,5 hingga 2 liter per hari, dan jumlah tersebut dapat bertambah apabila seseorang banyak beraktivitas di bawah terik matahari.
"Gampang kok indikasinya, lihat kencing kalau kencingnya sudah mulai keruh, hampir pasti itu kurang cairan."
Udara Dingin Bisa Memicu Kekambuhan Asma
Selain cuaca panas, Gregorius juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai suhu dingin, terutama bagi penderita asma maupun alergi saluran pernapasan.
Meski suhu dingin di DIY belum tergolong ekstrem, kondisi tersebut tetap berpotensi memicu kekambuhan pada kelompok yang memiliki riwayat penyakit tersebut.
"Kalau kemudian dia penderita asma, jangan sampai kemudian terpapar langsung dingin yang esktrem tersebut kemungkinan bisa bisa kambuh," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































