
Foto ilustrasi karyawan industri tekstil - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) membuka opsi mengembangkan perusahaan tekstil yang sudah beroperasi sebagai bagian dari penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani mengatakan pemerintah tidak hanya mempertimbangkan pembangunan perusahaan tekstil baru. Sejumlah perusahaan tekstil yang telah beroperasi juga akan dilihat potensinya untuk dikembangkan, terutama dari sisi mesin dan teknologi.
Hal tersebut disampaikan Rosan seusai mengikuti rapat terbatas (ratas) bersama Presiden Prabowo Subianto yang membahas industri TPT di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (22/9/2026).
“Ya, memang untuk BUMN Tekstil ini kita kembali lagi, karena kita sudah sepakat untuk membangun yang tidak hanya yang baru, tetapi kita juga akan melihat apabila ada beberapa perusahaan tekstil yang berpotensi untuk kita kembangkan, terutama dari segi mesinnya, dari segi teknologinya, kita terbuka gitu,” kata Rosan.
Danantara Pertimbangkan Lapangan Kerja dan Return
Rosan mengatakan perusahaan tekstil yang akan dikembangkan harus memenuhi sejumlah pertimbangan. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kemampuan investasi tersebut dalam menciptakan lapangan pekerjaan.
Namun, Danantara sebagai lembaga pengelola investasi juga tetap mempertimbangkan aspek keekonomian dari setiap investasi yang dilakukan.
“Selama memang dari segi penciptaan lapangan pekerjaannya itu tinggi dan tetap masih karena kita adalah Danantara, kita tetap mengutamakan agar investasinya itu mempunyai return yang baik ya,” tandas Rosan.
Sebelumnya, berkembang wacana agar Danantara mengakuisisi aset PT Sri Rejeki Isman Tbk. (SRIL) atau Sritex yang sedang memasuki tahapan lelang di KPKNL Surakarta.
Perusahaan pailit yang sebelumnya memasok pakaian bagi tentara di berbagai belahan dunia itu sebagian utangnya memang ke perusahaan negara.
Utilisasi Pabrik Tekstil Baru 75%
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tingkat utilisasi pabrik tekstil nasional saat ini baru mencapai sekitar 75%.
Menurut Airlangga, kondisi tersebut menunjukkan masih terdapat ruang bagi industri tekstil nasional untuk meningkatkan produksi sekaligus melakukan ekspansi.
Hal tersebut disampaikan Airlangga seusai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto yang membahas industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (22/9/2026).
“Kedua, kita melihat bahwa utilisasi daripada pabrik tekstil itu masih sekitar 75%, sehingga masih ada ruang untuk melakukan ekspansi,” kata Airlangga.
Dia menjelaskan pemerintah juga melihat perbedaan karakteristik antara industri tekstil, khususnya bahan baku, dan industri pakaian jadi.
Pada tahun lalu, Indonesia masih mencatatkan posisi net importer untuk bahan baku tekstil dengan nilai impor sekitar US$8,4 miliar. Sementara itu, nilai ekspornya sekitar US$3,1 miliar.
Industri Garmen Indonesia Jadi Net Eksportir
Kondisi berbeda terlihat pada industri pakaian jadi atau garmen. Nilai ekspor pakaian jadi mencapai sekitar US$8,7 miliar, sedangkan impornya hanya sekitar US$690 juta.
“Jadi ada dua, dari segi industri hulu sampai tengah kita net importer, tetapi kalau dari segi garmen kita net eksportir,” katanya.
Dengan demikian, pemerintah melihat adanya perbedaan kondisi antara industri tekstil dari sektor hulu hingga tengah dengan industri garmen. Di sisi lain, tingkat utilisasi pabrik tekstil yang masih sekitar 75% dinilai masih memberikan ruang bagi peningkatan produksi dan ekspansi industri.
Bagi Danantara, pengembangan perusahaan tekstil yang sudah ada menjadi salah satu opsi selain membangun perusahaan baru, dengan pertimbangan kondisi mesin, teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta tingkat pengembalian investasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com

















































