
Psikologi - Ilustrasi Freepik
Harianjogja.com JOGJA—Rasa percaya diri dapat membantu seseorang menjalani kehidupan dengan lebih positif. Namun, ketika keyakinan terhadap diri sendiri berkembang menjadi kebutuhan berlebihan untuk dikagumi, merasa lebih unggul, dan sulit berempati, kondisi tersebut dapat mengarah pada Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik.
NPD merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai perasaan superior, kebutuhan akan kekaguman secara terus-menerus, serta rendahnya kepedulian terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain. Meski dari luar terlihat sangat percaya diri dan memiliki kebanggaan yang kuat, seseorang dengan NPD dapat memiliki harga diri yang rapuh dan sangat sensitif terhadap kritik.
Ciri Utama NPD
Pola perilaku NPD umumnya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak atau remaja. Beberapa karakteristik yang dapat muncul antara lain:
- Merasa superior. Menilai diri sendiri secara berlebihan dan merasa layak dianggap hebat meskipun pencapaian yang dimiliki tidak sebanding dengan keyakinan tersebut.
- Melebih-lebihkan kemampuan. Menonjolkan bakat, kemampuan, atau pencapaian secara berlebihan.
- Merasa diri istimewa. Meyakini dirinya berbeda dan hanya dapat dipahami oleh orang-orang dari kalangan tertentu.
- Terlalu larut dalam fantasi. Memiliki perhatian berlebihan terhadap khayalan tentang kesuksesan, kekuasaan, kecerdasan, ketampanan atau kecantikan, maupun pasangan ideal.
- Membutuhkan validasi. Terus-menerus mengharapkan apresiasi, perhatian, dan kekaguman dari orang-orang di sekitarnya.
- Merasa berhak mendapat perlakuan khusus. Menganggap dirinya sewajarnya memperoleh perlakuan berbeda dibandingkan orang lain.
- Eksploitatif dan minim empati. Memanfaatkan orang lain untuk memperoleh keuntungan pribadi serta kesulitan memahami perasaan atau kebutuhan orang di sekitarnya.
- Iri dan arogan. Dapat merasa iri terhadap keberhasilan orang lain sekaligus meyakini orang lain iri terhadap dirinya. Sikap tersebut dapat terlihat melalui perilaku sombong atau merendahkan orang lain.
Apa yang Memicu NPD?
Penyebab pasti gangguan kepribadian narsistik hingga kini belum diketahui. Namun, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan pola asuh, pengalaman hidup, dan trauma pada masa lalu. Kekerasan, penelantaran, pemanjaan, hingga pemberian pujian secara berlebihan termasuk pengalaman yang disebut berkaitan dengan perkembangan NPD.
Pola pengasuhan yang menuntut anak selalu sempurna dan tidak memberikan ruang untuk menerima kegagalan juga dapat meningkatkan risiko. Di samping faktor lingkungan, kombinasi faktor genetik dan gangguan neurobiologis turut disebut berperan dalam munculnya kondisi tersebut.
Penanganan NPD
Pendampingan psikologis dan dukungan dari orang-orang terdekat menjadi bagian penting dalam membantu seseorang menghadapi NPD. Penanganan sebaiknya dilakukan dengan bantuan tenaga profesional agar kondisi dapat dinilai secara tepat dan kebutuhan terapi dapat disesuaikan.
Selain menjalani terapi profesional, sejumlah kebiasaan positif dapat membantu seseorang mengelola gejala dan menjaga kondisi psikologis, di antaranya:
- Membangun komunikasi terbuka. Menjalin interaksi sosial yang sehat dan terbuka dengan orang-orang di sekitar.
- Meningkatkan edukasi diri. Mempelajari literasi kesehatan mental agar lebih memahami gejala serta mengenal tanda-tanda yang muncul sejak dini.
- Mengelola stres. Melakukan aktivitas relaksasi seperti meditasi atau yoga untuk membantu menjaga ketenangan pikiran.
- Mencari bantuan dalam kondisi darurat. Segera mendatangi fasilitas kesehatan atau menghubungi tenaga medis profesional apabila muncul dorongan untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Memahami karakteristik NPD penting agar seseorang tidak terburu-buru memberikan label narsistik kepada dirinya sendiri atau orang lain. Diagnosis gangguan kepribadian narsistik memerlukan penilaian oleh tenaga kesehatan mental profesional, sementara dukungan lingkungan tetap dibutuhkan dalam proses penanganannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539824/original/003583100_1774624130-IMG_6564.JPG.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5324850/original/079448900_1755868038-Elkan-Baggott.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5215189/original/094397100_1746795977-20250509AA_Persija_Jakarta_vs_Bali_United-8.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5558829/original/015961100_1776485350-IMG_20260418_120558_524.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5399789/original/029438800_1762005007-Dewa_United_vs_Shan_United-8.jpg)
