Budi Gunadi Sadikin Bersaing Jadi Dirjen WHO, Ada 4 Kandidat

9 hours ago 10

Harianjogja.com, JOGJA—Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin resmi masuk dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO. Budi diajukan Indonesia dan kini tercatat sebagai salah satu dari empat kandidat prospektif yang bersaing untuk menduduki posisi tertinggi di organisasi kesehatan dunia tersebut.

Berdasarkan laman resmi WHO yang dikutip Senin (24/8/2026), Budi menjadi kandidat yang diajukan Indonesia. Tiga nama lain yang tercantum ialah Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar, Hanan Balkhy dari Arab Saudi, serta Hans Henri P. Kluge yang diusulkan Belgia.

WHO masih menyebut keempat nama itu sebagai prospective candidates atau kandidat prospektif. Daftar serta status pencalonan masih dapat diperbarui setelah WHO memublikasikan seluruh kandidat beserta proposal pencalonannya.

Masuknya Budi ke dalam persaingan menjadi perhatian karena profilnya berbeda dari banyak nama yang selama ini dikaitkan dengan kepemimpinan WHO. Ia bukan dokter atau profesional kesehatan masyarakat, melainkan memiliki pendidikan fisika nuklir dan pengalaman panjang di sektor perbankan serta korporasi.

Budi Bawa Pengalaman Perbankan ke Bursa WHO

Sebelum berada di pemerintahan, Budi menjalani karier panjang di dunia usaha. Ia pernah menduduki posisi Direktur Utama Bank Mandiri mulai 2013, kemudian memimpin perusahaan induk pertambangan milik negara PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum).

Karier tersebut menjadi bagian dari perjalanan Budi sebelum masuk pemerintahan sebagai Wakil Menteri BUMN dan kemudian Menteri Kesehatan. Profil resmi Kementerian Kesehatan mencatat Budi dilantik sebagai Menteri Kesehatan pada 23 Desember 2020.

Ia kemudian memimpin Kementerian Kesehatan ketika Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Pengalaman mengelola sektor keuangan dan korporasi menjadi salah satu latar belakang yang membedakan Budi dari sejumlah kandidat lain dalam persaingan menuju kursi Direktur Jenderal WHO.

Latar belakang nonmedis itu dinilai oleh sebagian pengamat dapat menjadi tantangan apabila Budi nantinya terpilih memimpin organisasi kesehatan dunia. Namun, pengalaman di bidang keuangan juga dinilai dapat menjadi modal ketika WHO menghadapi persoalan pendanaan.

Persoalan pembiayaan memang menjadi salah satu tantangan besar yang dihadapi WHO. Tekanan itu meningkat setelah Amerika Serikat mundur dari organisasi tersebut, yang kemudian mendorong WHO melakukan berbagai langkah penghematan. Reuters sebelumnya melaporkan WHO memangkas biaya dan merencanakan pengurangan staf sebagai bagian dari respons terhadap tekanan pendanaan.

Rekam Jejak Budi di Kesehatan Global

Selain pengalaman di sektor keuangan, Budi memiliki keterlibatan dalam diplomasi kesehatan global. Salah satu yang menjadi bagian dari rekam jejaknya ialah keterlibatan dalam pembentukan Pandemic Fund.

Dana pandemi itu diluncurkan dalam rangkaian Presidensi G20 Indonesia di Bali pada 2022. Pandemic Fund dibentuk sebagai mekanisme pembiayaan untuk memperkuat kesiapsiagaan, pencegahan, dan respons terhadap pandemi. Bank Dunia mencatat peluncuran resmi dana tersebut berlangsung di Bali pada 13 November 2022.

Dalam agenda G20 tersebut, Budi menjadi salah satu pejabat yang terlibat dalam pembahasan penguatan arsitektur kesehatan global. Kementerian Kesehatan juga mencatat Budi dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memimpin pertemuan gabungan Menteri Keuangan dan Menteri Kesehatan G20 yang membahas perkembangan pembentukan Pandemic Fund.

Keterlibatan dalam mekanisme pendanaan kesehatan global menjadi bagian lain dari profil Budi ketika ia kini masuk dalam persaingan Direktur Jenderal WHO. Pengalaman tersebut hadir bersamaan dengan latar belakangnya sebagai mantan bankir dan pejabat korporasi.

Pada Juli 2026, Indonesia juga memberikan tambahan kontribusi sukarela sekitar US$30 juta kepada WHO untuk membantu menutup kekurangan pendanaan organisasi tersebut. Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kemudian menyampaikan apresiasi kepada Budi atas kontribusi Indonesia itu. WHO mencatat pertemuan Tedros dengan Budi berlangsung di kantor pusat WHO di Jenewa pada 1 Juli 2026.

Meski demikian, Tedros sampai sekarang belum secara terbuka memberikan dukungan kepada kandidat tertentu untuk menggantikannya. Posisi Direktur Jenderal WHO baru akan ditentukan melalui rangkaian proses pemilihan yang melibatkan negara-negara anggota.

Empat Kandidat Sudah Masuk Bursa

Dengan masuknya Budi, jumlah kandidat prospektif yang tercantum dalam perkembangan terbaru menjadi empat orang. Budi mewakili Indonesia, sedangkan Hanan Balkhy berasal dari Arab Saudi, Hanan Mohammed Al-Kuwari dari Qatar, dan Hans Kluge dari Belgia.

Devex melaporkan Budi menjadi kandidat terbaru yang masuk persaingan setelah sebelumnya berbulan-bulan namanya beredar sebagai calon potensial. Media kesehatan global itu juga mencatat latar belakang fisika nuklir dan pengalaman Budi sebagai CEO Bank Mandiri.

Sebelum pencalonannya menjadi resmi, Budi memang sudah lama disebut dalam pembicaraan mengenai calon Direktur Jenderal WHO berikutnya. Pada Mei 2026, ia mengatakan kepada Devex bahwa Presiden Prabowo Subianto telah membicarakan peluang tersebut dengannya, tetapi Budi saat itu belum mengonfirmasi pencalonan karena pengajuan harus dilakukan oleh negara.

Pencalonan Budi membuat persaingan menuju posisi puncak WHO semakin konkret. Namun, empat nama yang ada saat ini belum menjadi daftar final karena negara-negara anggota masih mempunyai kesempatan mengajukan kandidat lain.

Batas waktu pencalonan ditetapkan pada 24 September 2026. Setelah tahapan pencalonan selesai, proses pemilihan akan berlanjut menuju tahap berikutnya sebelum pemungutan suara pada World Health Assembly.

Pemilihan Dirjen WHO Berlangsung pada 2027

Pemilihan Direktur Jenderal WHO dijadwalkan berlangsung pada Mei 2027 di Jenewa, Swiss. Negara-negara anggota WHO nantinya akan memilih pemimpin baru dalam World Health Assembly ke-80.

Kandidat yang muncul saat ini masih berstatus kandidat awal atau prospektif. Dengan batas pencalonan yang masih terbuka, peta persaingan dapat berubah sebelum seluruh tahapan pemilihan berjalan.

Direktur Jenderal WHO yang baru nantinya dijadwalkan mulai menjalankan tugas pada 16 Agustus 2027 setelah masa jabatan Tedros Adhanom Ghebreyesus berakhir. The BMJ mencatat proses menuju pemilihan mencakup penentuan daftar kandidat oleh Executive Board sebelum pemungutan suara di World Health Assembly pada Mei 2027.

Pemilihan itu berlangsung ketika WHO sedang menghadapi perubahan besar. Mundurnya Amerika Serikat dari organisasi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pendanaan, sementara WHO juga melakukan berbagai penyesuaian untuk menghadapi kondisi keuangan yang lebih ketat.

Krisis pendanaan itu antara lain berujung pada pengurangan jumlah staf sekitar 25% dalam setahun terakhir. Sejumlah pejabat senior WHO juga meninggalkan organisasi, termasuk dokter dan peneliti asal Inggris Jeremy Farrar.

Situasi tersebut menjadi latar ketika negara-negara anggota mulai menentukan sosok yang akan memimpin WHO setelah Tedros. Budi hadir dalam persaingan itu dengan kombinasi pengalaman sebagai Menteri Kesehatan, mantan bankir, pemimpin perusahaan negara, serta tokoh yang terlibat dalam sejumlah agenda pendanaan kesehatan global.

Dengan demikian, pencalonan Budi tidak hanya menempatkan nama Indonesia dalam bursa pemimpin WHO, tetapi juga mempertemukan latar belakang pengelolaan keuangan dengan pengalaman pemerintahan dan kesehatan global dalam proses pemilihan yang masih berlangsung.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |