
Ketua Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya, Ainun Murwani, menuturkan renovasi rumahnya yang sebagian berasal dari tabunga arisan Kalijawi di Notoyudan, Pringgokusuman, Gedongtengen, pada Sabtu (4/7/2026). /Harian Jogja-Stefani Yulindriani.
Harianjogja.com, JOGJA— Perubahan di kampung-kampung bantaran sungai di Kota Jogja tidak diawali proyek bernilai besar, melainkan dari kebiasaan sederhana menyisihkan tabungan Rp2.000 setiap hari. Melalui gerakan yang digagas Paguyuban Kalijawi, ratusan rumah warga berangsur menjadi lebih layak huni, sementara kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat ikut mengalami perubahan.
Jejak perubahan itu terlihat di Kampung Notoyudan, Kelurahan Pringgokusuman, Kemantren Gedontengen, Kota Jogja. Gang-gang sempit yang dulu identik dengan rumah beratap bocor, minim ventilasi, dan sanitasi kurang memadai, kini menghadirkan hunian yang lebih sehat dengan bukaan jendela lebih lebar sehingga cahaya matahari dan sirkulasi udara dapat masuk lebih optimal.
Ketua Koperasi Jasa Kalijawi Mangayu Bagya, Ainun Murwani, mengenang bahwa gagasan tersebut lahir dari ajakan sederhana untuk mengubah kebiasaan warga.
"Daripada uangnya buat beli obat sakit kepala karena pusing mikir rumah, mending ditabung untuk memperbaiki rumah," kenang Ainun Murwani, Sabtu (4/7/2026).
Ungkapan itu kemudian menjadi titik awal berdirinya Paguyuban Kalijawi pada 12 Juli 2012. Saat itu, warga di 14 kampung bantaran Sungai Winongo dan Gajah Wong menghadapi persoalan serupa, mulai dari rumah tidak layak huni, lingkungan kumuh, sanitasi buruk, status lahan yang belum jelas, hingga terbatasnya akses terhadap bantuan pemerintah karena banyak warga tinggal di lahan nonsertifikat.
Alih-alih memulai dengan pembangunan infrastruktur lingkungan, Kalijawi memilih menjadikan rumah sebagai pintu masuk perubahan.
Menurut Ainun, lingkungan yang sehat berawal dari rumah yang layak. Namun, pembangunan fisik tidak akan bertahan apabila masyarakat tidak dibekali peningkatan kapasitas.
"Kalau manusianya tidak dikapasitasi, lima tahun lagi akan kumuh lagi," katanya.
Bersama Arkom Jogja, para perempuan dari 14 kampung bantaran sungai diajak memetakan persoalan yang mereka hadapi. Hasil pemetaan menunjukkan persoalan hampir seragam, yakni sanitasi yang buruk, rumah tidak layak huni, pengelolaan limbah yang belum memadai, serta tekanan ekonomi keluarga. Dari proses itulah lahir gagasan membentuk tabungan renovasi rumah.
Skema yang dipilih bukan pinjaman perbankan, melainkan sistem arisan yang lebih akrab bagi masyarakat. Setiap kelompok terdiri atas 10 anggota yang menyetor Rp2.000 per hari atau sekitar Rp60.000 setiap bulan. Setelah dua bulan, tabungan kelompok terkumpul Rp1,2 juta, kemudian ditambah dana hibah dari Kalijawi hingga menjadi Rp3 juta untuk anggota yang mendapat giliran merenovasi rumah.
Meski demikian, Ainun mengatakan bantuan tersebut hanya menjadi pemicu agar warga terdorong menambah biaya renovasi sesuai kemampuan masing-masing.
"Yang Rp3 juta itu menjadi pemantik. Warga ikut menambah sendiri sesuai kemampuan," ujarnya.
Ia pun menjadi salah satu contoh penerima manfaat. Renovasi rumahnya menghabiskan sekitar Rp17 juta yang dikumpulkan secara bertahap dari hasil berdagang bersama suaminya di kawasan Malioboro. Sedikit demi sedikit rumahnya berkembang dari satu lantai menjadi dua lantai, lengkap dengan ruang mezzanine untuk anak-anaknya.
Peran perempuan menjadi kekuatan utama dalam perjalanan Kalijawi. Ainun mengaku kondisi tersebut bukan dirancang sejak awal, melainkan terjadi secara alami karena kaum ibu paling aktif mengikuti proses pemetaan kampung dan berbagai diskusi yang diselenggarakan.
Selain mempelajari pembangunan rumah, mereka juga mendapatkan pendampingan mengenai pengelolaan keuangan keluarga, penyusunan anggaran renovasi, hingga cara memisahkan uang usaha dan kebutuhan rumah tangga.
"Peningkatan kapasitas pertama yang kami lakukan adalah manajemen keuangan keluarga," katanya.
Perubahan pola pikir itu kemudian melahirkan dampak yang lebih luas. Ketika kebutuhan warga berkembang, mulai dari kesehatan, pendidikan, modal usaha hingga persoalan rentenir, dana yang semula hanya digunakan untuk renovasi rumah berkembang menjadi koperasi.
Kini koperasi tersebut memiliki aset sekitar Rp1,1 miliar dengan 278 anggota aktif yang berasal dari 14 kampung. Dana bergulir dimanfaatkan untuk renovasi rumah, biaya pendidikan, layanan kesehatan, modal usaha, hingga membantu anggota keluar dari jeratan rentenir.
Meski demikian, Ainun mengakui masih ada anggota yang mengalami kesulitan mengembalikan pinjaman karena kebiasaan menutup utang dengan utang baru. Untuk mengatasi persoalan itu, Kalijawi tidak menggunakan pendekatan penagihan yang keras, melainkan mengedepankan dialog dengan memberi kesempatan anggota melakukan akad pinjaman ulang agar cicilan menjadi lebih ringan.
Gerakan Kalijawi juga mendorong lahirnya konsep penataan kampung berbasis partisipasi masyarakat melalui M3K (Mundur, Munggah, Madep Kali). Konsep tersebut mengubah orientasi rumah yang semula membelakangi sungai menjadi menghadap sungai, sekaligus menyediakan ruang inspeksi, memperbaiki sanitasi, dan menghadirkan ruang terbuka hijau.
Salah satu implementasi yang paling dikenal adalah penataan Kampung Mrican yang kini kerap menjadi tujuan studi banding berbagai daerah hingga kementerian.
Memasuki tahap berikutnya, Kalijawi mengembangkan konsep perumahan gotong royong sebagai model penyediaan hunian berbasis koperasi bagi masyarakat berpenghasilan rendah dengan kepemilikan lahan secara komunal.
Di Kampung Notoyudan, sekitar 65 keluarga masih membutuhkan hunian yang lebih layak karena satu rumah dihuni hingga tiga kepala keluarga. Kalijawi bersama pemerintah kini mengupayakan pembangunan rumah deret, meski kebutuhan pembiayaan lahan masih mencapai miliaran rupiah.
Bagi Ainun, seluruh perjalanan tersebut tidak semata tentang membangun rumah, melainkan membangun keyakinan bahwa masyarakat mampu menyelesaikan persoalannya melalui semangat gotong royong.
Gerakan yang berawal dari tabungan Rp2.000 per hari itu kini telah membantu memperbaiki ratusan rumah, memperkuat ketahanan ekonomi keluarga, sekaligus mengubah wajah kampung-kampung bantaran sungai di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.


















































