Bahaya Popcorn: Tak Hanya Tersedak, Tapi Risiko Masuk Paru-Paru

9 hours ago 6

Jumali

Jumali Sabtu, 04 Juli 2026 14:47 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Siapa sangka, camilan yang tampaknya ringan dan empuk seperti berondong jagung atau popcorn, yang sering menjadi teman setia saat bersantai atau menonton film bersama keluarga, menyimpan bahaya besar bagi si kecil yang masih balita. Para pakar kesehatan dengan tegas melarang pemberian popcorn untuk anak di bawah usia tertentu. Mengapa demikian? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Risiko Tersedak yang Sangat Tinggi

Melansir Parents, popcorn merupakan salah satu penyebab utama anak tersedak. Teksturnya yang ringan membuat serpihannya mudah terhirup masuk ke saluran pernapasan saat anak sedang makan sambil berbicara, tertawa, atau bermain. Selain itu, bagian tengah berondong atau biji jagung yang belum mekar sempurna memiliki tekstur yang keras dan bisa dengan mudah tersangkut di tenggorokan kecil mereka.

Berdasarkan rekomendasi dari American Academy of Pediatrics (AAP), popcorn termasuk dalam daftar makanan berisiko tinggi yang harus dihindari oleh anak di bawah usia 4 tahun, bersama dengan anggur utuh, sosis, dan permen keras. Dokter Spesialis Anak Whitney Casares juga menegaskan bahwa popcorn bisa dengan mudah tersangkut di saluran napas anak kecil karena ukuran dan bentuknya.

Bahaya Aspirasi Benda Asing

Selain menyumbat tenggorokan, bahaya lain yang mengintai adalah aspirasi, yakni kondisi ketika serpihan makanan terhirup masuk ke dalam paru-paru, bukan ke lambung. Jika serpihan popcorn masuk ke paru-paru, benda asing ini tidak bisa larut begitu saja. Hal ini dapat memicu komplikasi serius, seperti peradangan, infeksi paru-paru kronis (pneumonia aspirasi), hingga berujung fatal jika menyumbat jalan napas total.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Mengenalkannya?

Menurut para pakar, sebaiknya orang tua menunggu sampai anak berusia setidaknya 4 atau 5 tahun sebelum memperkenalkan popcorn. Pada usia ini pun, anak tetap harus diawasi dengan ketat saat makan dan diajarkan untuk mengunyahnya secara perlahan.

Ahli Gizi Chanel Kenner menjelaskan bahwa sekitar usia 4 tahun, risiko anak tersedak mulai berkurang karena saluran udara mereka sudah lebih berkembang. Namun, orang tua juga harus memastikan bahwa anak telah mengembangkan keterampilan mengunyah yang cukup untuk menangani makanan padat. Di bawah usia tersebut, anak-anak belum memiliki kemampuan mengunyah yang matang karena mereka belum mempunyai gigi geraham yang kuat untuk menggilas makanan dengan sempurna.

Alternatif Camilan yang Lebih Aman

Sebagai alternatif, apabila si kecil menyukai camilan yang renyah, orang tua bisa memberikan pilihan yang lebih aman dan mudah lumer di mulut. Camilan seperti puffs khusus bayi, kue beras mini (rice cakes), atau biskuit lunak bisa menjadi pilihan yang menyenangkan sekaligus menenangkan hati orang tua.

Jadi, pastikan untuk selalu mengawasi setiap makanan yang masuk ke mulut si kecil, ya Moms! Keselamatan anak adalah prioritas utama, dan memilih camilan yang tepat adalah langkah penting untuk menjaga mereka tetap sehat dan bahagia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |