40 UMKM Ramaikan Suadesa Festival 2026, Pasar Produk Lokal Makin Luas

7 hours ago 6

40 UMKM Ramaikan Suadesa Festival 2026, Pasar Produk Lokal Makin Luas

Suadesa Festival 2026 menghadirkan 40 UMKM dengan produk kerajinan, makanan dan kuliner untuk memperluas pasar serta menjaring pelanggan baru. /Istimewa.

Harianjogja.com, JOGJA—Suadesa Festival 2026 menjadi ruang promosi bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas pasar. Sebanyak 40 UMKM ambil bagian dalam kegiatan tersebut dengan menawarkan beragam produk, mulai dari kerajinan kayu, makanan ringan, kudapan tradisional hingga kuliner khas Yogyakarta.

Kehadiran puluhan pelaku usaha dalam festival tersebut tidak hanya menambah semarak kegiatan. Para pelaku UMKM juga mendapat kesempatan bertemu langsung dengan konsumen, memperkenalkan produk, mendapatkan pelanggan baru, serta membangun jejaring pemasaran.

Salah satu peserta adalah Gesang Art, UMKM kerajinan kayu asal Dlingo, Bantul, yang dikelola Budi Sutantyo. Gesang Art telah menjadi UMKM binaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) sejak 2008.

Budi mengatakan selama menjadi UMKM binaan PGN, usahanya memperoleh sejumlah dukungan, termasuk akses pembiayaan dengan persyaratan relatif ringan serta kesempatan mengikuti bazar dan pameran.

“Sejak 2008 kami menjadi UMKM binaan PGN mendapatkan fasilitas pinjaman yang sangat lunak, bahkan tanpa jaminan untuk usaha,” kata Budi saat ditemui di Suadesa Festival, Sabtu (22/8/2026).

Mainan Tradisional Kayu Jadi Andalan

Dalam Suadesa Festival 2026, Budi membawa sejumlah produk kerajinan kayu berupa mainan tradisional dan peralatan dapur. Produk yang dijual antara lain ketapel, tembakan kayu, yoyo serta berbagai mainan tradisional lainnya.

Harga produk Gesang Art cukup beragam, mulai Rp10.000 hingga Rp200.000 per item.

Menurut Budi, mainan tradisional berbahan kayu masih memiliki peminat karena harganya terjangkau dan mudah dibawa ketika mengikuti berbagai pameran.

“Mainan tradisional dari kayu biasanya laris dan banyak diburu. Selain harganya murah, pengerjaannya juga relatif mudah,” ujarnya.

Budi berharap kegiatan seperti Suadesa Festival dapat digelar secara berkelanjutan. Dia juga berharap pelaku UMKM binaan PGN memperoleh kesempatan lebih banyak untuk mengikuti pameran di luar daerah, khususnya Jakarta dan Bali.

“Kami berharap ada fasilitasi pameran, terutama di luar kota seperti Jakarta dan Bali,” katanya.

UMKM Perempuan Ikut Promosikan Produk

Kesempatan memperluas pasar juga dimanfaatkan pelaku UMKM perempuan dari Desa Sinduharjo. Koordinator Forum Komunikasi dan Organisasi (Forkom) UMKM Desa Sinduharjo, Arsinta Lisnawati, mengatakan kelompoknya membawa sejumlah makanan ringan dan kudapan.

Produk yang ditawarkan antara lain mochi, kue gulung, sosis, arem-arem dan lumpia. Harga yang ditawarkan relatif terjangkau, yakni mulai Rp2.000 hingga Rp15.000 per item.

Meski bukan UMKM binaan PGN, Arsinta menilai keikutsertaan dalam festival memberikan manfaat bagi pelaku usaha, terutama kaum ibu. Selain memperkenalkan produk kepada konsumen yang lebih luas, kegiatan tersebut juga dapat meningkatkan kepercayaan diri pelaku usaha dalam mengembangkan bisnis.

Sementara itu, pelaku usaha kuliner tradisional Cucur Jadul Bu Wanti dari Pasar Ngasem Yogyakarta juga memanfaatkan Suadesa Festival 2026 untuk memperluas pasar.

Pemilik usaha, Nurmalita, mengaku mendapat tawaran mengikuti festival dari tim Pasar Kangen Yogyakarta. Dia menyambut kesempatan tersebut karena dapat membuka peluang mendapatkan pelanggan baru.

“Begitu tim panitia Pasar Kangen Yogyakarta memberikan informasi dan menawarkan untuk masuk di Suadesa Festival 2026, saya senang sekali. Kehadiran di acara ini bisa menambah pelanggan,” tutur Nurmalita.

Selama ini, pelanggan Cucur Jadul Bu Wanti harus datang langsung ke Pasar Ngasem untuk membeli kue cucur berbahan dasar tepung beras tersebut. Harga satu buah cucur sekitar Rp4.000.

Suadesa Festival 2026 didukung PGN, Subholding Gas Pertamina, sebagai ruang kolaborasi yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat dengan pengembangan potensi bisnis lokal.

Keterlibatan 40 UMKM dalam festival tersebut menunjukkan besarnya potensi kegiatan pameran sebagai sarana mempertemukan pelaku usaha dengan konsumen. Beragam produk lokal, mulai dari kerajinan kayu hingga makanan tradisional, hadir dalam satu ruang dan membuka peluang transaksi serta pemasaran baru.

Dengan semakin banyaknya ruang promosi dan pameran, pelaku UMKM diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi, memperluas jangkauan pasar dan mengembangkan usaha sebagai salah satu penggerak ekonomi masyarakat lokal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |