Perjalanan Radinka, Si Bungsu Jawara Esports Indonesia di Asian Games 2026

9 hours ago 7

Harianjogja.com, NAGOYA— Hampir dua bulan Radinka Wiratama tidak menjalani rutinitas seperti kebanyakan anak seusianya. Remaja berusia 16 tahun itu lebih banyak menghabiskan waktu di tempat pemusatan latihan sebagai atlet esports yang tengah bersiap menghadapi Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang.

Hari-harinya dimulai dengan sarapan dan persiapan latihan. Setelah itu, Radinka menjalani sesi latihan, apel, kemudian kembali berlatih hingga sore hari.

Malam menjadi waktu yang lebih longgar. Selain beristirahat, ia mengisinya dengan aktivitas fisik seperti gym untuk mendukung persiapannya sebagai atlet.

Rutinitas tersebut telah dijalaninya selama beberapa minggu. Sesekali Radinka pulang ke rumah karena tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari lokasi pelatnas, meski lebih sering keluarganya yang datang menjenguk.

Ada banyak hal yang harus ia kompromikan demi menjalani kehidupan sebagai atlet profesional. Waktu bersama teman, bermain, hingga rutinitas sekolah menjadi bagian yang harus dilewatkan.

Radinka menyadari konsekuensi tersebut.

Berawal dari Gim Saat Kelas Tiga SD

Ketertarikan Radinka terhadap esports sebenarnya bermula dari hal yang sederhana. Sejak kelas tiga sekolah dasar, ia sudah mengenal gim dan mulai bermain bersama teman-temannya.

Mobile Legends menjadi salah satu permainan pertama yang ia mainkan. Ketertarikannya kemudian beralih ke game sepak bola pada 2020 ketika eFootball sedang banyak dimainkan.

Semula hanya rasa penasaran. Namun, kebiasaan bermain bersama teman perlahan berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius.

Radinka mulai berlatih lebih teratur, mengikuti kompetisi, hingga akhirnya masuk ke lingkungan profesional.

Ia mulai meniti karier sebagai atlet esports profesional pada awal 2025. Ketika itu, usianya baru 15 tahun dan ia dipinang oleh salah satu tim esports ternama.

Pilihan tersebut sempat membuat orang tuanya khawatir. Seperti kebanyakan orang tua, keluarga Radinka sempat melihat aktivitas bermain gim sebagai sesuatu yang perlu dibatasi, terlebih pendidikan tetap menjadi perhatian.

Radinka memilih tidak banyak berdebat. Ia mencoba menunjukkan pilihannya melalui prestasi.

Salah satu titik penting datang ketika ia menjadi juara pada turnamen pertamanya pada 2024. Prestasi tersebut perlahan mengubah pandangan keluarganya.

Setelah merasakan hasil dari kompetisi, dukungan orang tua mulai tumbuh. Dukungan itu kemudian menjadi bagian dari perjalanan Radinka hingga memasuki persaingan internasional.

Debut Internasional di Thailand

Pada Juli 2026, Radinka tampil dalam kejuaraan dunia di Thailand. Kompetisi tersebut menjadi turnamen internasional pertamanya.

Ia berhasil melangkah hingga empat besar atau semifinal. Sang ibu turut mendampinginya selama berada di Thailand.

Bagi Radinka, pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan yang paling membekas. Bukan hanya karena berhasil mencapai posisi empat besar, tetapi juga karena untuk pertama kalinya ia merasakan atmosfer kompetisi internasional dengan membawa ambisi yang lebih besar.

Tak lama berselang, kesempatan yang lebih besar datang.

Nama Radinka masuk dalam skuad tim nasional esports Indonesia untuk Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang.

Di usia 16 tahun, ia menjadi atlet termuda dalam tim nasional esports Indonesia untuk ajang tersebut.

Belajar dari Senior, Termasuk Rizky Faidan

Status sebagai atlet paling muda tidak membuat Radinka merasa berada di bawah para seniornya. Ia justru melihat seluruh anggota tim sebagai atlet yang memiliki tujuan sama, yakni berjuang untuk Indonesia.

Perbedaan usia tidak menjadi jarak bagi Radinka. Lingkungan pelatnas menjadi ruang belajar baru karena ia berada satu tim dengan pemain-pemain yang lebih dahulu memiliki pengalaman profesional.

Salah satu sosok yang paling dekat dengannya adalah Rizky Faidan, partner satu tim Radinka di nomor eFootball.

Faidan menjadi senior sekaligus rekan berbagi selama persiapan. Dari sana, Radinka mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang tidak semuanya bisa diperoleh hanya melalui latihan mandiri.

Asian Games 2026 juga menghadirkan format pertandingan yang menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya.

Radinka akan bermain pada sektor mobile, sedangkan Faidan turun di konsol. Hasil pertandingan keduanya kemudian digabungkan dalam sistem agregat.

Dengan format tersebut, performa kedua atlet sama-sama penting.

Jepang, Thailand, dan Malaysia Jadi Perhatian

Persaingan di Asian Games diperkirakan berlangsung ketat. Jepang, Thailand, dan Malaysia menjadi beberapa negara yang diwaspadai Radinka.

Meski demikian, ia tidak ingin daftar lawan tersebut berubah menjadi beban. Rasa gugup tetap muncul menjelang pertandingan, tetapi Radinka berusaha menjaga pikirannya tetap tertuju pada apa yang harus dilakukan di dalam pertandingan, bukan hasil akhirnya.

Sejumlah kebiasaan juga ia lakukan sebelum bertanding untuk menjaga fokus. Radinka biasa berdoa, mendengarkan musik, melakukan visualisasi, dan mengatur pernapasan agar lebih rileks.

Persiapan mental juga menjadi bagian dari program di pelatnas. Para atlet mendapatkan pembekalan psikologi selain materi teknis dari pelatih.

Bahkan, jadwal latihan mulai disesuaikan dengan waktu pertandingan di Jepang. Pola tidur dan jam bermain diatur agar tubuh terbiasa tampil pada waktu yang sama dengan jadwal pertandingan Asian Games.

Bagi Radinka, seluruh persiapan tersebut merupakan bagian dari proses yang harus dijalani.

Sekolah Tetap Ada dalam Rencana Masa Depan

Menjadi atlet profesional di usia muda membuat Radinka harus menerima sejumlah pengorbanan. Sekolah menjadi salah satunya.

Namun, ia tetap memiliki rencana untuk masa depan di luar arena pertandingan. Setelah menyelesaikan SMA, Radinka ingin membuka peluang untuk melanjutkan kuliah sambil tetap berkarier sebagai atlet esports.

Untuk saat ini, ia belum ingin terlalu jauh memikirkan apa yang akan terjadi setelah Asian Games.

Perjalanannya masih panjang.

Karier profesional Radinka baru dimulai dan semangatnya masih tinggi. Ia memilih menjalani proses yang ada, terus belajar mengikuti perubahan strategi dan meta permainan, serta menjaga kedisiplinan.

Kerja keras dan pantang menyerah menjadi prinsip yang ia pegang. Hal sederhana seperti datang tepat waktu pun menurutnya menjadi bagian dari kedisiplinan seorang atlet.

Dari Bermain Bersama Teman hingga Berseragam Merah Putih

Sebagai anak tunggal, Radinka kini membawa dirinya ke panggung yang mungkin tidak pernah dibayangkan ketika pertama kali bermain gim bersama teman-temannya.

Dulu, eFootball hanyalah permainan yang membuatnya penasaran. Kini, gim tersebut justru membawanya mengenakan seragam kebanggaan tim nasional Indonesia.

Radinka sedang menghitung hari menuju Asian Games pertamanya. Ia datang bukan sebagai atlet paling berpengalaman, melainkan sebagai salah satu yang termuda di antara para pejuang Merah Putih.

Di tengah perjalanan karier yang masih panjang, Asian Games 2026 menjadi panggung penting bagi Radinka Wiratama untuk mengukur sejauh mana mimpinya dapat mengembara dan seberapa jauh ia mampu membawanya menjadi nyata.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |