MinyaKita Langka, Bulog Minta Tambahan Kuota

6 hours ago 2

MinyaKita Langka, Bulog Minta Tambahan Kuota Pendistribusian Minyakita di Pasar Imogiri, Bantul, Rabu (15/3/2023). - Harian Jogja/Hadid Husaini

Harianjogja.com, JAKARTA — Perum Bulog mengusulkan penambahan kuota minyak goreng bersubsidi merek MinyaKita kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag). Langkah ini diambil sebagai respons atas mulai langkanya produk tersebut di sejumlah pasar tradisional maupun ritel.

Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa pihaknya telah lebih dulu melaporkan kondisi tersebut kepada Badan Pangan Nasional (Bapanas). Laporan itu juga disampaikan kepada Kepala Bapanas yang merangkap Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman.

Menurut Rizal, kuota distribusi MinyaKita saat ini belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus meningkat, terutama setelah periode hari besar keagamaan. “Kami sudah ajukan penambahan kuota ke Kemendag agar pasokan bisa lebih memadai,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Terbentur Skema DMO

Dalam mekanisme yang berlaku, pasokan MinyaKita berasal dari kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), yakni kewajiban produsen minyak sawit untuk memasok kebutuhan dalam negeri sebesar 35 persen. Kuota tersebut kemudian dibagi ke sejumlah BUMN pangan.

Distribusinya terdiri atas 70 persen untuk Bulog, 20 persen untuk ID Food, dan 10 persen untuk Agrinas Palma Nusantara. Meski Bulog mendapat porsi terbesar, keterbatasan kuota tetap menjadi kendala dalam menjaga keseimbangan antara kebutuhan pasar dan program bantuan pemerintah.

Beban Ganda: Pasar dan Bantuan Sosial

Di sisi lain, Bulog saat ini juga menjalankan penugasan besar untuk menyalurkan bantuan pangan kepada lebih dari 33 juta keluarga penerima manfaat (KPM), berdasarkan data dari Kementerian Sosial.

Program bantuan tersebut tidak hanya mencakup beras, tetapi juga minyak goreng MinyaKita. Kondisi ini membuat Bulog harus membagi alokasi secara cermat agar distribusi tidak timpang.

“Harus dibagi, sebagian untuk bantuan pangan dan sebagian untuk pasar. Ini yang menjadi tantangan karena kebutuhan terus meningkat,” kata Rizal.

Dampak Momentum Lebaran

Sebelumnya, distribusi MinyaKita difokuskan untuk menjaga stabilitas harga selama bulan Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah. Intervensi tersebut dinilai cukup berhasil menahan lonjakan harga di tengah tingginya permintaan.

Namun, pasca-Lebaran, fokus distribusi mulai bergeser ke penyaluran bantuan pangan. Akibatnya, ketersediaan di pasar sempat mengalami tekanan karena kuota yang terbatas.

Usulan Tambahan Kuota

Sebagai solusi, Bulog mengusulkan peningkatan porsi DMO hingga sekitar 65 persen. Dengan tambahan tersebut, diharapkan distribusi MinyaKita dapat berjalan lebih optimal dan merata, baik untuk kebutuhan pasar maupun program bantuan sosial.

Rizal berharap pemerintah segera menyetujui usulan tersebut agar kelangkaan dapat segera diatasi. “Dengan tambahan kuota, kami optimistis kebutuhan masyarakat dan bantuan pangan bisa terpenuhi secara bersamaan,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |