Krisis Guru SMP di Kulonprogo, Banyak Mengajar Lintas Mapel

4 hours ago 4

Krisis Guru SMP di Kulonprogo, Banyak Mengajar Lintas Mapel Foto ilustrasi guru. / Foto dibuat oleh Artificial Intelligence ChatGPT

Harianjogja.com, KULONPROGO—Krisis kekurangan guru di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Kulonprogo semakin terasa dan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran siswa. Kondisi ini memaksa sejumlah guru mengajar di banyak rombongan belajar (rombel), bahkan lintas mata pelajaran yang bukan bidangnya.

Situasi tersebut dipicu ketimpangan antara jumlah guru yang pensiun dan rekrutmen tenaga pendidik baru yang belum mampu menutup kebutuhan. Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kulonprogo, Nur Hadiyanto, menyebut rata-rata 150 hingga 200 guru pensiun setiap tahun, sementara pengangkatan melalui jalur CPNS maupun PPPK masih jauh dari angka tersebut.

"Rata-rata guru yang pensiun dalam satu tahun itu sekitar 150 sampai 200 orang. Sementara pengangkatan, baik melalui jalur CPNS maupun PPPK, jumlahnya masih jauh di bawah itu karena terbentur kemampuan keuangan daerah," ujarnya, Senin (13/4/2026).

Kondisi ini diperparah dengan larangan perekrutan tenaga honorer baru sesuai aturan yang berlaku. Akibatnya, sekolah harus mencari solusi darurat agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Salah satunya dengan menerbitkan surat perintah tugas tambahan bagi guru untuk mengajar di lebih dari satu sekolah yang lokasinya berdekatan.

"Ada guru seni budaya yang harus mengajar di dua SMP sekaligus. Bahkan, ada fenomena di mana guru Bahasa Jawa terpaksa mengajar prakarya atau guru senior non-BK harus berperan sebagai guru BK. Ini tentu membuat beban kerja guru menjadi overload," tambah Nur Hadiyanto.

Data Disdikpora menunjukkan kekurangan guru paling besar terjadi pada sejumlah mata pelajaran strategis. Mapel Bimbingan Konseling (BK) kekurangan hingga 47 guru, Prakarya 46 guru, Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) 40 guru, serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) sebanyak 20 guru.

Dalam kondisi normal, beban kerja guru idealnya sekitar 37,5 jam per minggu dengan tanggung jawab mengajar maksimal 18 hingga 19 kelas. Namun realitas di lapangan menunjukkan banyak guru melampaui batas tersebut, sehingga berpotensi menurunkan kualitas pembelajaran sekaligus berdampak pada kondisi fisik dan mental pengajar.

"Mata pelajaran (Mapel) BK paling banyak gap kekurangannya mencapai 47 guru, Mapel Prakarya kekurangan 46 guru, Mapel TIK kekurangan 40 guru dan Mapel PJOK kekurangan 20 guru," ucap Nur Hadiyanto.

Upaya penambahan guru juga tidak mudah dilakukan karena terbentur regulasi anggaran. Berdasarkan Undang-Undang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD), belanja pegawai dibatasi maksimal 30 persen dari total APBD.

"Ini dilematis. Di satu sisi kita kurang guru, di sisi lain ada batasan belanja pegawai. Jika kita menambah tenaga, tentu akan menambah beban anggaran," tuturnya.

Sebagai langkah jangka pendek, Disdikpora Kulonprogo tengah berkoordinasi dengan sejumlah instansi seperti BKAD, Bapperida, dan BKPSDM untuk mengusulkan penambahan tenaga melalui skema jasa layanan orang perorangan (JLOP).

"Kami sedang menghitung kebutuhan yang paling mendesak. Harapannya usulan JLOP tambahan ini bisa dikabulkan tahun ini. Jika tidak ada gurunya, layanan pendidikan di Kulonprogo akan terdampak buruk karena anak-anak tidak terlayani dengan semestinya," tambah Nur Hadiyanto.

Meski demikian, skema tersebut belum tentu mampu menutup seluruh kekurangan karena tetap bergantung pada kemampuan anggaran daerah. Di sisi lain, sejumlah sekolah bahkan terpaksa meminta guru yang sudah pensiun untuk kembali membantu mengajar demi mengisi kekosongan kelas.

Berbeda dengan jenjang SMP, kondisi tenaga pendidik di tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) relatif lebih stabil. Untuk SD, kekurangan guru hanya sekitar 11 orang, sehingga tidak sekrusial yang terjadi di SMP.

Dengan kondisi ini, kebutuhan penambahan guru secara berkelanjutan menjadi kunci agar kualitas pendidikan di Kulonprogo tetap terjaga, terutama bagi siswa yang setiap hari bergantung pada layanan pembelajaran di sekolah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |