
Foto ilustrasi Koperasi Desa Merah Putih, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA— Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mengambil peran strategis dalam mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), koperasi di tingkat kalurahan akan memetakan kebutuhan bahan baku pangan yang dibutuhkan dapur MBG agar pasokan dapat dipenuhi dari hasil produksi lokal.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat ketersediaan bahan pangan bagi program MBG, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi petani dan pelaku usaha desa di DIY.
Ketua Paguyuban Lurah, Pamong, dan Staf Pamong (Nayantaka) DIY, Gandang Hardjanata, mengatakan setiap koperasi akan membangun hubungan langsung dengan dapur SPPG untuk mengetahui kebutuhan bahan pangan yang diperlukan secara rutin.
"Nanti dari masing-masing koperasi itu akan membuat hubungan ke dapur SPPG. Jadi dari SPPG itu nanti dari kelurahan ataupun koperasi akan memetakan kebutuhannya apa," ujar Gandang, Minggu (6/7/2026).
Menurut dia, hasil pemetaan tersebut akan menjadi dasar pengembangan unit usaha koperasi di setiap kalurahan. Produk pertanian lokal yang selama ini dihasilkan masyarakat akan dihimpun dan disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG.
Komoditas yang dipasok akan disesuaikan dengan potensi wilayah masing-masing. Beberapa di antaranya seperti bawang merah, wortel, kentang, hingga beras yang selama ini menjadi kebutuhan pokok dalam penyediaan makanan bergizi.
"Misalnya apa yang bisa ditanam. Kalau di daerah Yogyakarta mungkin bawang merah, kebutuhannya berapa, kalau wortel kebutuhan berapa, dan harus mengambil di daerah Cangkringan. Jadi nanti akan dipetakan," katanya.
Untuk mendukung kesiapan produksi, Nayantaka juga menggandeng dinas pertanian di tingkat kabupaten dan kota di DIY. Kerja sama tersebut difokuskan pada pendampingan budidaya komoditas pertanian yang berpotensi menjadi pemasok utama program MBG.
Pendampingan meliputi peningkatan teknik budidaya, produktivitas hasil panen, hingga pengelolaan pascapanen agar kualitas produk sesuai kebutuhan dapur gizi.
Selain sektor pertanian, penguatan koperasi juga diarahkan pada pengembangan produk peternakan. Nayantaka menjalin kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk memberikan pendampingan teknologi dan pengolahan susu bagi pelaku usaha desa.
Menurut Gandang, susu kambing menjadi salah satu alternatif yang tengah dikaji untuk mendukung kebutuhan gizi dalam program MBG, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap susu UHT yang harganya cenderung meningkat.
"Jadi nanti berusaha ambil susu kambing sebagai pengganti susu UHT yang harganya sudah tinggi. Nah, jika mau buat susu kan juga perlu pendampingan, didampingi sama UGM, baik kemasan bagaimana, teknologinya bagaimana," ujarnya.
Ke depan, KDMP tidak hanya berfungsi sebagai penyalur hasil produksi desa ke dapur MBG, tetapi juga menjadi sarana distribusi antarkoperasi di DIY. Skema tersebut memungkinkan daerah yang memiliki surplus komoditas tertentu memasok wilayah lain yang mengalami kekurangan produksi.
Melalui pola kerja sama tersebut, kebutuhan pangan program MBG diharapkan dapat dipenuhi dari dalam daerah sehingga memberikan efek berganda terhadap perekonomian desa.
Gandang menambahkan, operasional KDMP termasuk penguatan rantai pasok untuk kebutuhan MBG akan didukung melalui pemanfaatan Dana Keistimewaan (Danais). Dukungan tersebut diharapkan mempercepat pengembangan koperasi sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat desa.
"Jadi masing-masing daerah nanti akan terpetakan mayoritasnya. Nah kebutuhan akan dipasok sesama koperasi merah putih, misalnya di sana beras surplus nanti pasok wilayah yang tidak bisa nanam padi. Jadi nanti ada komunikasi koordinasi," katanya.
Dengan model kolaborasi antara koperasi, pemerintah desa, dinas pertanian, perguruan tinggi, dan dapur SPPG, Pemda DIY berharap program MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan memperluas manfaat ekonomi hingga ke tingkat kalurahan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































