Kemarau Lebih Kering Tahun Ini, Intai Cadangan Air Tanah

4 hours ago 2

Harianjogja.com, JAKARTA—Musim kemarau 2026 diperkirakan datang lebih awal dengan kondisi lebih kering dibandingkan rata-rata 30 tahun terakhir, sehingga berpotensi menekan curah hujan dan cadangan air di berbagai wilayah Indonesia.

Direktur Perubahan Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Fachri Rajab menjelaskan kondisi ini dipengaruhi oleh aktivitas fenomena El Nino yang mulai muncul pada akhir April hingga awal Mei 2026.

“Bila dibandingkan dengan rata-ratanya selama 30 tahun, musim kemarau tahun ini relatif lebih kering. Namun perlu digarisbawahi, maksudnya adalah lebih kering dari rata-rata, bukan musim kemarau terparah,” ujarnya dalam diskusi Hari Meteorologi Dunia ke-76 di Jakarta.

BMKG menegaskan informasi yang menyebut kemarau 2026 sebagai yang paling ekstrem tidak tepat dan cenderung berlebihan.

Fachri menyebut kemarau pada 1997 dan 2015 masih jauh lebih kuat, meski kondisi tahun ini diprediksi lebih kering dibandingkan 2023.

Ia juga menekankan bahwa musim kemarau tetap terjadi setiap tahun di Indonesia, terlepas dari ada atau tidaknya El Nino.

“Perlu pula diketahui El Nino dan musim kemarau itu dua hal yang berbeda,” katanya.

El Nino Kurangi Hujan

El Nino merupakan fenomena iklim global yang dipicu perubahan suhu air laut di Samudra Pasifik, yang kemudian memengaruhi arah angin dan pembentukan awan hujan.

Bagi Indonesia, kondisi ini biasanya membuat awan hujan bergeser ke wilayah lain sehingga intensitas hujan berkurang dan kemarau berlangsung lebih lama.

BMKG memprediksi El Nino yang saat ini masih dalam kategori lemah akan meningkat menjadi moderat pada triwulan III 2026, sekitar Agustus hingga Oktober.

Perubahan pola hujan tidak hanya terlihat dari langit yang lebih cerah, tetapi juga dari kondisi tanah yang perlahan kehilangan cadangan air.

Tanah yang berfungsi seperti spons akan menyimpan air saat musim hujan, lalu melepaskannya secara perlahan untuk kebutuhan tanaman. Namun saat hujan berkurang dalam waktu lama, cadangan tersebut terus menyusut.

Air di dalam tanah juga hilang akibat penguapan dan diserap tanaman, sehingga dalam kondisi kemarau panjang, kelembapan tanah menurun drastis.

Salah satu tanda yang mudah dikenali adalah munculnya retakan di permukaan tanah, terutama pada tanah bertekstur liat.

Retakan tersebut menunjukkan cadangan air di dalam tanah sudah menipis, sehingga tanah menjadi keras dan sulit diolah.

Ancaman bagi Pertanian

Kondisi ini berdampak langsung pada sektor pertanian karena tanaman kesulitan mendapatkan air.

Selain itu, tanah yang mengeras membuat proses pengolahan lahan menjadi lebih berat, sehingga berpotensi mengganggu produktivitas.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk menyikapi kondisi ini secara serius, namun tidak berlebihan, serta mendorong langkah mitigasi guna menjaga ketersediaan air dan keberlangsungan pertanian.

“Informasi ini harus ditanggapi serius, namun tidak perlu berlebihan atau bahkan menjadi panik,” ujar Fachri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |