Surabaya (ANTARA) - Prestasi olahraga pelajar jarang lahir dari satu pertandingan. Di balik setiap kemenangan, ada proses panjang untuk menemukan bakat, menempa keberanian, melatih disiplin, dan memberi ruang bagi anak-anak untuk belajar dari arena kompetisi.
Lapangan sekolah sering kali menjadi tempat pertama proses itu berlangsung. Di sana, kemampuan yang awalnya sederhana dapat berkembang melalui latihan rutin, pendampingan intensif, partisipasi dalam pertandingan, dan kesempatan menghadapi lawan. Oleh karena itu, kemenangan dalam kompetisi pelajar tidak seharusnya hanya diukur dari trofi yang dibawa pulang.
Hal yang jauh lebih penting adalah apakah kemenangan tersebut mampu membuka pintu bagi pembinaan yang berkelanjutan? Semangat inilah yang tercermin dari perjalanan tim sepak bola putra dan putri SMP Kota Surabaya pada Gala Siswa Indonesia (GSI) 2026 tingkat Jawa Timur di Lapangan PUSDIK ARHANUD TNI-AD, Kota Batu, 31 Agustus hingga 4 September.
Kedua tim berhasil keluar sebagai juara dan kini bersiap melangkah ke tahap selanjutnya, yakni seleksi untuk memperkuat Jawa Timur di tingkat nasional. Tim putra sukses mempertahankan gelar selama dua tahun berturut-turut, sementara tim putri secara impresif langsung meraih juara pada keikutsertaan perdana mereka.
GSI memang bukan sekadar turnamen antarsekolah biasa. Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah merancangnya sebagai ajang talenta olahraga tingkat SMP yang berjenjang dari daerah hingga nasional. Maka dari itu, pencapaian tim Surabaya ini sangat layak dipandang sebagai bukti berjalannya ekosistem pembinaan talenta yang sehat.
Baca juga: Gala Siswa Indonesia ingin jaga tradisi sumbang pemain ke timnas
Seleksi berjenjang
Perjalanan tim GSI Surabaya menegaskan betapa pentingnya proses seleksi yang bertahap. Penjaringan pemain dimulai dari tingkat kecamatan pada Juli 2026, lalu berlanjut ke seleksi tingkat kota pada Agustus, hingga akhirnya para pemain terpilih dipercaya membela nama Surabaya di tingkat provinsi.
Model seleksi berjenjang ini sangat vital karena lapangan sekolah kerap menjadi tempat pertama seorang anak menunjukkan potensinya. Bagaimanapun, talenta hebat tidak selalu lahir dari sekolah yang memiliki tradisi olahraga kuat. Melalui seleksi yang sistematis dan berjenjang, setiap pemain mendapatkan kesempatan yang sama untuk ditemukan berdasarkan kemampuan murni, bukan semata-mata karena nama besar sekolahnya.
Sistem pembinaan di Surabaya ini juga melibatkan sinergi dari guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP, serta komunitas Surabaya Legend. Para mantan pemain Persebaya yang tergabung dalam Surabaya Legend turut berperan aktif dalam memantau sekaligus menggembleng pengembangan bakat para pemain muda tersebut.
Pesepak bola pelajar putra tim Kota Surabaya menggiring bola saat berlaga dalam ajang Gala Siswa Indonesia (GSI) tingkat Jawa Timur yang digelar di Lapangan PUSDIK ARHANUD TNI-AD, Kota Batu 31 Agustus hingga 4 September 2026. Tim putra dan putri Surabaya sukses menjadi juara pertama dan bersiap mengikuti seleksi tingkat nasional. ANTARA/HO-Diskominfo Surabaya.Pembinaan di usia sekolah tak cukup hanya dengan menemukan anak yang pandai bermain sepak bola. Talenta mereka perlu dipetakan secara terukur berdasarkan posisi, karakter permainan, kebutuhan latihan, hingga perkembangan kemampuannya. Dengan pendekatan semacam ini, proses pembinaan tidak lagi berorientasi sebatas pada satu turnamen semata.
Sebelum tampil di tingkat Jawa Timur, para pemain sempat menjalani pemusatan latihan selama sekitar dua pekan serta melakoni laga persahabatan melawan sejumlah klub di Surabaya. Pola ini menunjukkan bahwa kompetisi sekolah membutuhkan jembatan nyata menuju iklim pertandingan yang lebih kompetitif.
Di sisi lain, pembagian peran dalam ekosistem ini juga harus jelas. Sekolah bertugas menjaga keseimbangan antara pendidikan akademis dan pembinaan dasar; klub memberi jam terbang serta pengalaman bertanding; pemerintah menyediakan fasilitas dan kemudahan akses; sedangkan komunitas serta mantan atlet hadir untuk memperkuat sisi teknis sekaligus mental bertanding para pemain.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

















































