AI Tak Cukup! Ford, Klarna, dan IBM Kembali Butuh Manusia

8 hours ago 8

AI Tak Cukup! Ford, Klarna, dan IBM Kembali Butuh Manusia

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik


Harianjogja.com, JOGJA—Euforia pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) yang sempat mendorong banyak perusahaan melakukan efisiensi besar-besaran mulai menunjukkan sisi lain. Sejumlah perusahaan global yang sebelumnya memangkas ribuan pekerja demi mempercepat transformasi berbasis AI kini justru kembali merekrut tenaga manusia.

Perubahan arah ini menunjukkan bahwa AI belum sepenuhnya mampu menggantikan pengalaman, intuisi, kreativitas, serta kemampuan pemecahan masalah yang dimiliki manusia. Di berbagai sektor, mulai dari otomotif hingga layanan pelanggan, perusahaan mulai menemukan bahwa teknologi dan sumber daya manusia harus berjalan berdampingan.

Salah satu contoh terbaru datang dari Ford. Produsen otomotif asal Amerika Serikat itu mengakui terlalu optimistis dalam mengandalkan AI untuk mendukung proses pengembangan kendaraan.

Perusahaan tersebut kini kembali merekrut lebih dari 350 engineer. Sebagian di antaranya merupakan mantan karyawan yang sebelumnya telah meninggalkan perusahaan.

Dilansir dari Reuters, Vice President of Vehicle Hardware Engineering Ford, Charles Poon, mengatakan perusahaan sempat beranggapan AI yang dilatih menggunakan data dan persyaratan desain yang tersedia mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi secara otomatis.

Namun dalam praktiknya, asumsi tersebut tidak sepenuhnya terbukti.

Chief Operating Officer Ford, Kumar Galhotra, juga mengakui sistem pengendalian kualitas berbasis otomatis yang selama ini digunakan belum mampu memberikan hasil sesuai ekspektasi perusahaan.

Para engineer yang direkrut kembali tidak hanya bertugas mengidentifikasi sumber masalah dalam produk, tetapi juga melatih generasi pekerja baru serta membantu menyempurnakan sistem AI yang digunakan perusahaan.

Langkah tersebut memberikan hasil positif. Ford berhasil menekan biaya garansi dan penarikan kembali produk (recall) hingga ratusan juta dolar AS. Perusahaan juga mencatatkan peningkatan kualitas produk yang diakui dalam survei Initial Quality Survey dari JD Power.

Fenomena serupa terjadi di perusahaan teknologi finansial Klarna.

Pada 2024, Klarna memangkas sekitar 1.200 karyawan dan mengganti sebagian fungsi layanan pelanggan dengan chatbot berbasis AI. Sistem tersebut bahkan disebut mampu menggantikan pekerjaan sekitar 700 petugas layanan pelanggan.

Secara operasional, chatbot memang mempercepat waktu respons pelanggan dari rata-rata 11 menit menjadi hanya dua menit. Perusahaan juga mengklaim mampu menghemat biaya operasional hingga miliaran rupiah.

Meski demikian, manfaat tersebut tidak sepenuhnya berdampak pada peningkatan kualitas layanan maupun produktivitas bisnis secara keseluruhan.

CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui perusahaan terlalu agresif dalam mengadopsi AI. Saat ini, Klarna kembali membuka puluhan posisi baru dengan fokus meningkatkan pengalaman pelanggan dan kualitas layanan.

Perubahan pendekatan juga terlihat di Salesforce.

Perusahaan perangkat lunak tersebut sempat memangkas sekitar 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada 2025. Sebagian besar tugas mereka kemudian dialihkan kepada agen AI yang mampu bekerja secara otomatis.

Namun, Salesforce tidak sepenuhnya meninggalkan peran manusia.

Perusahaan kini mengembangkan model kerja baru yang mengombinasikan agen AI dengan karyawan melalui sistem pengawasan terpadu. Dalam model ini, AI menjalankan tugas rutin sementara manusia berperan mengawasi, mengevaluasi, dan menangani persoalan yang membutuhkan pertimbangan lebih kompleks.

Sementara itu, IBM mengambil langkah berbeda.

Perusahaan teknologi tersebut memang sempat mengurangi sekitar 2.700 posisi pekerjaan pada akhir 2025. Namun untuk 2026, IBM justru berencana meningkatkan perekrutan tenaga kerja level pemula hingga tiga kali lipat dibanding sebelumnya.

Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, menjelaskan perusahaan kini lebih membutuhkan talenta yang mampu memahami kebutuhan klien, membangun komunikasi, dan menyelesaikan persoalan bisnis secara langsung.

Menurutnya, tugas-tugas teknis dasar seperti pemrograman sederhana sudah semakin mudah dikerjakan oleh AI. Sebaliknya, kemampuan interpersonal dan pemahaman bisnis tetap membutuhkan sentuhan manusia.

Fenomena yang terjadi di sejumlah perusahaan besar tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu berarti menggantikan manusia sepenuhnya. AI terbukti mampu meningkatkan efisiensi pada pekerjaan tertentu, tetapi masih memiliki keterbatasan dalam aspek kreativitas, penilaian situasional, komunikasi, hingga pengambilan keputusan yang kompleks.

Bagi dunia kerja, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa masa depan kemungkinan tidak akan didominasi oleh manusia atau AI secara terpisah. Sebaliknya, kolaborasi keduanya diperkirakan menjadi model kerja yang paling realistis untuk menjaga produktivitas sekaligus kualitas layanan di berbagai sektor industri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |